Christa Pike, Napi Pertama Lolos Hukuman Mati di AS

Alih-alih meregang nyawa, Christa Pike (58) malah siuman stelah disuntik dua dosis pentrobarbital yang mematikan (foto AFP)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 7/10 – CHRISTA Pike, terpidana mati di lapas Tennessee, Amerika Serikat, telah sadar dan bisa berbicara hampir sepekan setelah selamat dari upaya eksekusi dengan suntik mati.

Pengacaranya seperti diulas Newsweek mengatakan pada Selasa (6/10) bahwa Pike masih menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Nashville.

Perempuan berusia 50 tahun itu diyakini menjadi orang pertama yang diketahui selamat setelah menjalani secara lengkap prosedur eksekusi dengan suntik mati di AS.

Ia disuntik dua dosis pentobarbital dalam upaya eksekusi pada 30 September 2026 di Riverbend Maximum Security Institution.

“Di luar segala kemungkinan,  Christa Pike sadar, dapat berbicara, dan masih menerima perawatan medis kritis,” kata tim pengacaranya dalam pernyataan kepada Newsweek.

“Pemulihannya belum pernah terjadi sebelumnya secara medis. Prognosisnya masih belum jelas, tetapi setidaknya kami memperkirakan proses pemulihan yang panjang,” lanjut mereka.

Kondisi Pike menjadi perhatian karena sebelumnya ia dilaporkan tidak sadarkan diri, diintubasi, dan menggunakan ventilator setelah prosedur eksekusi gagal.

 

Selamat setelah disuntik mati

Tennessee menggunakan pentobarbital dalam protokol suntik mati dengan satu jenis obat.

Pentobarbital merupakan barbiturat kuat yang menekan sistem saraf pusat. Dalam eksekusi, obat diberikan dalam dosis besar untuk menyebabkan ketidaksadaran hingga berujung kematian.

Protokol Tennessee mengatur pemberian dosis kedua apabila terpidana masih hidup beberapa menit setelah dosis pertama diberikan.

Kesaksian para saksi dan dokumen pengadilan menunjukkan Pike menerima dua putaran pentobarbital setelah petugas menyimpulkan dosis pertama tidak menghasilkan efek yang diharapkan.Namun ajaib, Pike tetap hidup.

Pengacaranya mengatakan ia masih bergerak selama prosedur dan kemudian membutuhkan perawatan medis darurat.

Menurut Newsweek, protokol Tennessee tidak secara khusus menjelaskan apa yang harus dilakukan petugas apabila seorang terpidana tetap hidup setelah kedua dosis diberikan.

Situasi itu membuat kasus Pike disebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Kondisinya sempat kritis

Pengacara Pike mengatakan kedua lengannya mengalami kerusakan serius selama upaya eksekusi.

Dalam beberapa hari setelah prosedur, kedua lengannya dilaporkan membengkak, melepuh, dan mengalami luka seperti terbakar.

Komplikasi medis tersebut membuat Pike kehilangan kesadaran dan bergantung pada ventilator.

Dokter Joel Zivot, ahli anestesi yang menjadi konsultan tim hukum Pike, mengatakan fakta bahwa Pike kini sudah sadar merupakan perkembangan positif.

Namun, menurut dia, kondisinya belum dapat dianggap aman.

“Dia masih berada di ICU,” kata Zivot.

“Dia sudah pulih sampai pada tingkat tertentu sehingga tidak lagi menggunakan ventilator dan bisa berbicara, tetapi saya sama sekali tidak akan mengatakan dia sudah bebas dari risiko serius lebih lanjut,” ujarnya.

Zivot mengatakan diperlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk mengetahui sejauh mana pemulihan Pike.

Dokter juga belum mengetahui apakah terdapat dampak fisik atau neurologis jangka panjang setelah suntikan tersebut.

Selidiki kegagalan eksekusi

Gubernur Tennessee Bill Lee telah memerintahkan penyelidikan independen mengenai kegagalan eksekusi Pike.

Ia juga menghentikan seluruh eksekusi lain yang masih dijadwalkan di Tennessee sepanjang 2026.

Pengacara Pike bersiap menghadiri sidang pada Rabu (7/10/2026) untuk meminta pengadilan memastikan berbagai catatan dan bukti terkait eksekusi tetap disimpan.

Mereka ingin memperoleh informasi mengenai obat yang digunakan, catatan eksekusi, serta bukti lain untuk menentukan penyebab prosedur tersebut gagal.

Tim hukum ingin mengetahui apakah kegagalan terjadi akibat obat, cara pemberiannya, masalah pemasangan jalur intravena, atau faktor lain.

Kepala sistem pemasyarakatan Tennessee Frank Strada juga mengundurkan diri pada Sabtu setelah kegagalan eksekusi tersebut.

30 tahun menanti eksekusi

Pike telah mendekam hampir tiga dekade di deretan terpidana mati Tennessee.

Ia dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer, seorang mahasiswi Job Corps berusia 19 tahun di Knoxville pada 1995. Pike berusia 18 tahun saat kejahatan tersebut dilakukan.

Juri Knox County menyatakannya bersalah atas pembunuhan tingkat pertama dan konspirasi melakukan pembunuhan pada 1996.

Ia kemudian dijatuhi hukuman mati setelah sebelumnya menolak kesepakatan pengakuan bersalah yang dapat membuatnya menjalani hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.

Berbagai upaya hukum terhadap vonis dan hukumannya selanjutnya ditolak oleh pengadilan Tennessee, pengadilan federal, hingga Mahkamah Agung AS.

Namun, kegagalan eksekusi pada September membuka persoalan hukum baru yang belum terselesaikan, termasuk apakah Tennessee dapat kembali mencoba mengeksekusi Pike pada masa mendatang.

Untuk saat ini, belum ada tanggal eksekusi baru yang ditetapkan. (the newsweek/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here