
JAKARTA – (KBKNEWS) 16/10 – MENKO Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendesak progres reformasi pasar modal Indonesia ditunjukkan secara konkret kepada investor domestik maupun asing.
Hal itu dikatakan Airlangga seperti dilaporkan Rmol.id (16/10) menyusul langkah penyedia indeks global MSCI Inc. yang mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Airlangga menilai, implementasi reformasi menjadi catatan penting yang harus segera ditindaklanjuti pemerintah bersama otoritas pasar modal.
Menurut dia, langkah pembenahan tidak cukup hanya dijanjikan, tetapi juga harus menunjukkan perkembangan yang terukur.
“Reform harus dijalankan, dan progresnya harus tampak jelas oleh para investor dalam negeri maupun luar negeri,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.
Dia mengungkapkan, pengumuman MSCI kali ini datang lebih cepat dari perkiraan pemerintah. Sebelumnya, pengumuman tersebut diperkirakan baru disampaikan pada November, tetapi MSCI justru mengeluarkannya pada Oktober.
Airlangga menyebut MSCI juga memberikan tenggat evaluasi lanjutan, April dan Juni 2027 sehingga pemerintah perlu memastikan komitmen pembenahan pasar modal dapat diimplementasikan sesuai target.
Lama prores implementasi regulasi
Menurut Erlangga, salah satu persoalan yang menjadi perhatian MSCI adalah lamanya proses implementasi regulasi terhadap tindakan yang dilakukan pelaku pasar modal.
“Kalau kita lihat terkait dengan bidang implementasi regulasi terhadap tindakan yang dilakukan oleh pasar modal, ini kan mereka merasa periodenya agak panjang,” ujarnya.
Airlangga mengatakan pemerintah perlu menjelaskan alasan di balik lamanya proses implementasi tersebut, termasuk tahapan yang harus dilalui sebelum kebijakan dapat diberlakukan.
“Nah ini yang harus dijelaskan mengapa prosesnya membutuhkan waktu,” katanya.
Pemerintah, lanjut Airlangga, akan membahas persoalan tersebut bersama Bursa Efek Indonesia (BEI). Dia berharap pembenahan pasar modal ke depan memiliki langkah yang lebih konkret dengan jadwal pelaksanaan yang jelas.
“Tentu ini kita akan bicara dengan Bursa (BEI) bahwa kita berharap bahwa langkahnya konkret beserta timelinenya,” ujarnya.
Di tengah perkembangan itu, pemerintah juga menjadwalkan pertemuan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada hari ini.
Pertemuan berlangsung saat pasar keuangan domestik berada di bawah tekanan. Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp18.000 per Dolar AS, sementara perdagangan saham di BEI sempat dihentikan sementara (trading halt).
Airlangga sebelumnya menyebut pengumuman MSCI menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tekanan pasar, namun dia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan gejolak yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen pasar.
IHSG Alami teknan hebat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dan anjlok lebih dari 10% hingga menyentuh level 5.193,22 (posisi terendah dalam 6 tahun terakhir sejak September 2020), sehingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) di Bursa Efek Indonesia.
Penyebab Utama Gejolak
- Ancaman Penurunan Status MSCI: Morgan Stanley Capital International (MSCI) menilai pasar saham Indonesia berisiko diturunkan kastanya dari Emerging Market menjadi Standalone Market akibat durasi implementasi regulasi yang panjang, masalah transparansi data kepemilikan, dan arus informasi (information flow).
- Tenggat Reformasi: MSCI memberikan tenggat waktu baru bagi Indonesia untuk melakukan reformasi pasar modal pada April dan Juni 2027.
- Potensi Outflow Asing: Reklasifikasi berisiko memicu aliran keluar modal asing (capital outflow) dalam jumlah besar pada saham-saham utama.
Respons Pemerintah & Otoritas
- Kemenko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah sedang mempercepat reformasi pasar modal dan menjadwalkan rapat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), OJK, BEI, dan Bank Indonesia.
- Istana Kepresidenan: Melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), pihak istana menyatakan terus memantau perkembangan dan dinamika pasar.
- Imbauan BEI: Bursa Efek Indonesia meminta para investor dan pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi fluktuasi jangka pendek.
Kepercayaan di pasar modal tidak bisa dikesampingkan, sehingga aksi serius segenap pemangku kepentingan dan pelaku pasar di negeri ini sangat dinanti. (Rmol.id/berbagai sumber/ns)




