
JAKARTA – (KBKNEWS) – (18/10- BURSA Efek Indonesia (BEI) berkomitmen untuk membangun komunikasi dengan MSCI dan investor global untuk meningkatkan kapitalisasi pasar Indonesia yang anjlok hingga 55 persen dalam indeks MSCI.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi (18/10), menegaskan akan menjalankan apa yang menjadi masukan dari MSCI. BEI juga berkomitmen untuk menggali seluruh perhatian lembaga penyedia indeks global dan seluruh investor global.
“Kami berkomunikasi dengan MSCI dan investor global secara reguler. Apa yang kami lakukan sejauh ini itu juga berdasarkan masukan dari investor global juga. Nah tentu dengan pengumuman terakhir ini kami akan gali lebih jauh lagi ‘concern-concern’ mereka,” ungkap Iding kepada wartawan, Jumat (16/10) lalu.
Iding menegaskan, BEI juga akan terus melanjutkan agenda reformasi pasar modal dan juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia dan melaporkannya ke MSCI.
“Lag-lagiain, komitmen kami adalah terus melakukan reformasi yang sudah kami lakukan, kami perbaiki quality-nya, apa evidence-evidence-nya, ukuran-ukuran efektivitasnya juga akan kami komunikasikan,” jelasnya.
Potensi outflow
Terkait potensi outflow dari pemangkasan status MSCI, Iding mengaku BEI tidak menyediakan angka-angka tersebut. Pasalnya, outflow di pasar modal bergantung pada keputusan masing-masing investor.
MSCI diketahui membuka konsultasi untuk reklasifikasi status pasar modal Indonesia. Dalam proposal tersebut, status pasar modal RI terancam turun status dari Emerging Market menjadi Standalone Market dalam indeks saham MSCI.
Sejak Januari hingga 30 September 2026, MSCI mencatat kapitalisasi pasar Indonesia anjlok dari US$ 53,35 miliar dari sebelumnya US$ 119,14 miliar. Angka tersebut tercatat hingga 55% sepanjang Januari hingga September 2026.
“Sejak 1 Januari 2026, kapitalisasi pasar indeks total telah turun 55%,” tulis proposal konsultasi MSCI.
Selain itu, bobot saham RI di MSCI juga mengalami penyusutan signifikan sepanjang periode tersebut, yakni dari 1,16% menjadi 0,43%. Sementara jumlah konstituen saham Indonesia juga turun dari 18 menjadi sembilan hingga akhir September 2026.
Adapun rincian bobot sektor untuk Indeks MSCdan Indonesia adalah layanan komunikasi 10,70%, industri 7,81%, bahan baku 6,34%, energi 3,44%, dan keuangan 71.71%.
Sejumlah “PR”
Agar citra pasar saham Indonesia segera pulih da statusnya kembali ke emerging market, harus dipenuhi sejumlah pekerjaan rumah.
Pertama, meningkatkan transparansi kepemilikan sahamdi emiten agar tidk ada kepemilikan terselubung yang mmbiat ragu investor global.
Kedua, menghentikan praktek perdagangan terkoordinasi dengan memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap dugaa manipasi pasar, praktek perdagangan tak wajar (wash trading) yang merusak integritas bursa.
Tiga, adanya transparansi aksesabilitas data pasar dengan memastikan mutu perdagangan dan informasi terkait emiten nakal.
Empat, menjalin komunikasi aktif dengan regulator global, aktif berdialog serta menyampaikan progress reformasi secara transparan selama masa konsultasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung hingga April/Juni 2027.
Pasar saham intinya adalah kepercayaan, tidak cukup dengan slogan atau omon-omon, sehingga semua “PR” untuk menghindari downgrade dari status ‘emerging market’ ke standalone market harus dikerjakan. (detikfinance/ns)




