
JAKARTA – (KBKNEWS) – 18/10 – WAKIL Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman mengingatkan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia sudah berlangsung empat bulan, jadi pemerintah tidak perlu malu bekerja sama dengan negara lain untuk mengatasinya.
“Sudah berlangsung empat bulan, tak perlu malu bekerja sama dengan negara lain untuk menanggulanginya,” ujar Alex kepada Kompas.com., Minggu (18/10).
Alex sebaliknya menyebutkan, akan lebih memalukan apabila jargon ‘Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera’ berubah menjadi ‘Hutan Terbakar, Masyarakat (terkena) ISPA, ‘ imbuhnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan sudah memasuki atmosfer Jakarta, Jumat (16/10) pagi.
Ketua Tim Analisis dan Pengelolaan Citra Satelit dan Deteksi Petir BMKG Alpon Sepriando mengatakan, asap karhutla tersebut terpantau melalui citra satelit Himawari-9, tetapi belum terindikasi mencapai permukaan tanah.
“Secara area sudah (sampai ke Jakarta), namun secara vertikal belum mencapai permukaan. Namun jika kondisi angin melemah dapat mencapai permukaan dan masih tipis,” ujar Alpon saat dikonfirmasi.
Sampai Jakarta dan Banten
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada pukul 08.00 WIB, indikasi sebaran asap karhutla teridentifikasi di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Pola angin di lapisan atmosfer bawah yang bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat hingga barat laut memungkinkan asap karhutla bergerak dari Kalimantan menuju Pulau Jawa.
Sementara itu, angin di lapisan atmosfer menengah hingga atas cenderung bertiup dari timur laut menuju barat daya.
“Perbedaan arah angin pada berbagai lapisan atmosfer tersebut memungkinkan adanya transport asap kebakaran hutan dan lahan dari wilayah Kalimantan menuju Pulau jawa termasuk Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten,” ujar dia.
Kendati demikian, masih belum dapat dipastikan kapan dan sejauh mana asap karhutla yang terpantau di atmosfer akan memengaruhi kualitas udara di dekat permukaan Jakarta.
Sebab, kualitas udara Jakarta juga dipengaruhi berbagai sumber emisi lokal, seperti kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran, dan kegiatan lainnya.
Karhutla yang terutama melanda Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Riau sejak sekitar Mei lalu, menurut catatan SiPongi Kemenhut meliputi areal 202.000 Ha.
BNPB dalam pernyataannya bary-baru ini menyebutkan karhutla sudah ditekan hingga tersisa 369 Ha, namun nyatanya, kabut asap di berbagai wilayah termasuk di Malaysia dan Singapura makin pekat, kemungkinan sebagian berasal dari lahan gambut di mana nyala apinya di permukaan sudah surut atau padam, namun baranya yang ada di lapisan bawah tetap menyala dan menghasilkan kabut asap.
Tak hanya mengakibatkan penderitaan bagi warga terdampak, mengalami Infeksi saluran Pernafasan Akut (ISPA), terganggu aktvitasnya terutama mencari nafkah, juga sudah membuat gerah negara jiran terutama Malaysia dan Singapura yang udaranya diselimuti kabut asap yang sehingga mengganggu kesehatan warganya. (kompas.com/ns)




