Buta Aksara di Gorontalo Menurun

Ilustrasi pendidikan bagi masyarakat yang buta aksara/ tempo.co

GORONTALO – Program pendidikan rakyat (Prodira) yang diterapkan di Gorontalo terbukti berhasil menurunkan angka buta aksara di Provinsi Gorontalo secara signifikan.

Angka buta aksara pada tahun 2016 adalah 2.122 jiwa, turun dari 15.122 jiwa pada 2011 lalu, seperti diungkapkan Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim.

“Program pendidikan rakyat (Prodira) yang kami terapkan sejak tahun 2012, termasuk menurunkan angka buta aksara dengan intervensi program keaksaraan, Alhamdulillah 13 ribu warga telah berhasil di intervensi dan tidak lagi buta aksara. Sisanya akan kita tuntaskan tahun ini juga,” katanya, seperti dilansir Tribunnews, Jumat (9/9/2016).

Dalam Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang jatuh pada 8 September kemarin, Idris mengatakan hari itu merupakan sebuah momen untuk mengingatkan semua bahwa, upaya mengentaskan keterbatasan dan ketidakmampuan baca tulis dan berhitung, menjadi ikhtiar penting untuk mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Provinsi Gorontalo dalam pemerintahan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, terus memprioritaskan program pendidikan keaksaraan, di kantong-kantong wilayah yang masih memiliki angka buta aksara yang cukup tinggi.

“Dengan kemampuan keaksaraan, setiap individu dapat mengenal dunia sekitarnya, memahami lingkungannya, serta berpartisipasi dalam pembangunan. Pemerintah akan melayani masyarakat buta aksara, hingga mereka mampu membaca, menulis, dan berhitung,” tuturnya.

Karena itu menurut Idris, upaya yang dilakukan Pemprov Gorontalo adalah bagian dari keinginan pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk mengentaskan buta aksara di Indonesia

“Aksara untuk Pembangunan Lingkungan”. Sebagai upaya untuk mengingatkan kembali dan memberi inspirasi tentang kesungguhan usaha untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan keaksaraan sebagai fondasi gerakan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Advertisement