Ngobrol dengan Orang Sudah Meninggal dengan Kloning AI

Teknologi Artificial Inteligence (AI) memungkinkan orang melakukan rekayasa kloning untuk berinteraksi dengan orang yang sudah tidak ada). (ilustrasi: Freepik)

TEKNOLOGI kecerdasan buatan (AI) mampu membuat avatar atau kloning seseorang yang sebenarnya tidak ada.

Kemampuan teknologi AI tersebut, seperti dilaporkan Kompas.com. (23/5) dimanfaatkan untuk “menghidupkan” kembali orang yang sudah mati.

Membuat kloning seseorang tak harus untuk keperluan profesional atau penelitian canggih, tapi bisa digunakan untuk hal yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga.

Salah satunya terjadi di China. Seorang Ibu tidak sadar bahwa selama ini, ia mengobrol dengan kloning putranya yang sudah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Keluarganya menutupi kejadian ini lantaran sang Ibu memiliki penyakit jantung. Sebagai gantinya, keluarga diam-diam membuat avatar AI yang mirip almarhum sang putra.

AI inilah yang selalu berkomunikasi dengan Ibu lewat video call. Sang ibu pun disebut tidak mengetahui bahwa sosok yang rutin berbicara dengannya sebenarnya hanyalah kloning berbasis AI, bukan putranya sungguhan. Laporan ini pertama kali diungkap media lokal Litchi News.

Data dan rekaman almarhum
Untuk membuat kloning AI, anak dari pria yang terlibat kecelakaan memberikan foto, video, rekaman suara dan interaksi teks  almarhum kepada perusahaan teknologi AI untuk membuat tiruan digital yang dapat berbicara layaknya manusia asli.

Dalam salah satu percakapan, sang ibu mengaku sangat merindukan anaknya dan berharap bisa bertemu langsung.

“Kamu harus lebih sering menelepon, agar Ibu tahu apakah kamu baik-baik saja atau tidak di sana,” kata wanita berusia 80-an tahun itu. Avatar AI tersebut kemudian merespons seolah dirinya benar-benar sang anak. “Iya, bu. Akan tetapi aku terlalu sibuk, jadi tidak bisa berlama-lama mengobrol.

Jaga diri baik-baik ya. Setelah saya punya cukup uang, saya akan pulang,” demikian respons AI.

Bos perusahaan AI yang menyediakan layanan pembuatan avatar dalam kasus ini berkelakar bahwa bisnisnya memang “menipu emosi manusia”.

Namun pihaknya juga memastikan bahwa tujuannya adalah untuk menghibur mereka yang masih hidup dalam mengenang orang yang telah pergi untuk selamanya.

Di China, cerita ibu dengan kloningan AI anaknya ini memicu perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet menilai, pihak keluarga sudah bertindak terlalu jauh dan menganggap, penggunaan AI pada kasus ini tidak layak.

Warganet lainnya menilai bahwa tindakan keluarga yang diam-diam membuat kloningan AI justru lebih merugikan sang ibu, ketimbang mengungkapkan kebenaran.

Jika dilakukan di Indonesia, bisa jadi rekayasa teknologi AI semacam itu bisa digunakan oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk melakukan aksi penipuan atau pemerasan. (Kompas.com/Litchy news/Freepik/ns).

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here