Yusuf : Jual Kerupuk dan Mengalah Demi Anak

yusuf, 39 tahun, penjual kerupuk. Foto:Maifil/KBK

CIRACAS – Malam itu hujan mendadak turun dengan sangat derasnya, Yusuf, 39 Tahun, menepi dan berteduh ke pinggir jalan. Ia merapat ke sebuah pertokoan yang sudah tutup di Jalan Raya Ciracas, Jakarta Timur.

Kerupuk yang dia bawa, belum ada yang membeli, Yusuf baru keluar untuk berjualan setelah magrib, malam itu.

“Saya baru keluar, habis magrib,” ujarnya kepada KBK, Rabu (14/9/2016), sambil meraba-raba kerupuk yang dia bawa. Ia takut kalau-kalau kerupuknya kuyup karena hujan, karena itulah satu-satunya sumber nafkah ia saat ini.

Yusuf, seorang tuna netra, kedua matanya buta. Namun ia tidak mau berpangku tangan atau malah mengadahkan tangan menjadi pengemis, ia terus berusaha mencari nafkah yang halal dan berkah dengan menjadi pedagang kerupuk keliling.

Bekerja menjadi tukang kerupuk dilakoninya sejak 3 April 2016. Ia sangat hapal tanggal ia memulai usaha itu. Dengan hasil menjual kerupuk itu ia menafkahi anak dan isterinya yang dia tinggalkan di Majenang, Cilacap.

Sekali dua bulan, Yusuf pulang kampung menengok anak dan isterinya itu. Anaknya sekarang sudah berumur 6 tahun dan sudah duduk kelas 1 SD. Sebelum anaknya sekolah, isterinya Rukinah, 26 tahun sempat menemaninya di Jakarta. Tapi karena anak harus sekolah dan biaya lebih murah di kampung, maka ia pun mengalah demi masa depan anak.

Kini Yusuf tinggal sendiri, di sebuah kontrakan di kampung Beli, Pekayon, Jakarta Timur. Ia keluar berjalan kaki jualan kerupuk hanya 2 sift satu hari. Pagi sekitar pukul 08.00 Wib s.d Pukul 10.00 Wib, ketika matahari tidak begitu terik. Supaya ia mudah, ia hanya mengambil jalan satu arah pergi dan kemudian pulang di jalur yang sama.

Setelah jam 10.00 WIB, Yusuf istirahat di kamar kontrakkanya. Waktu istirahat dia gunakan untuk membaca Al Quran braile yang ia punya. Al Quran itu sumbangan dari seorang donatur dulunya ketika ia masih SMK.

“Ya, dulu saya dikasih sama orang Al Quran Braille dan kebetulan di sekolah diajarkan cara membacanya,” ujarnya.

Sejak itu ia menjadi rajin membacanya, dengan malu-malu ia mengakui sampai saat ini baru sekitar 2 juz yang sudah berhasil dia hapal.

Sift kedua dia jualan, dilakukan habis Magrib sampai jam 10 malam. Malam minggu adalah hari yang berkah baginya, banyak orang keluar rumah, karena itu banyak juga orang yang membeli dagangannya.

“Makanya kalau malam minggu saya bawa 150 kantong kerupuk,”  terang Yusuf.

Sebelum berjualan kerupuk, sejak 2006 tinggal di Jakarta, Yusuf berprofesi sebagai pengamen. Namun ia merasakan, hasil dari mengamen itu kok kurang berkah. Sebanyak yang Ia dapat, sebanyak itu pula keluar.

“Dibanding hasil jual kerupuk dengan ngamen, lebih besar ngamen. Tapi kok saya ngga bisa nabung karena ada saja pengeluaran,” ujarnya.

Dengan berjualan kerupuk, satu hari Yusuf bisa mendapatkan lebih satu juta kalau 70 bungkus kerupuk yang ia bawa berhasil terjual semua. “Dengan penjualan segitu saya sudah bisa menabung Rp200.000 bersih,” ujar Yusuf.

Sementara dengan ngamen ia bisa dapatkan lebih, karena ia tidak punya modal, hanya modal tenaga dan suara saja.

“Cuma ya itu tadi, mungkin ngga berkah. Mungkin banyak orang kesal, kemudian mereka ngasih duit karena pengen cepat saya pergi. Ya, orang lagi-lagi asyik makan di warung, saya nyanyi. Danggap berisik, saya langsung diusir meski dikasih uang,” jelas Yusuf.

Namun dengan menjual kerupuk, jelas barangnya dan untungnya. “Kita tidak membuat orang terganggu. Mereka beli sesuai harga yang disebutkan, bahkan mereka bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya,” ungkap Yusuf.

“Saya nggak melihat, jadi saya percaya saja dengan pembeli. Dagangan saya Swalayan, saya persilahkan mereka ambil sendiri barangnya, bayar dan kalau ada kembalian, dia ambil sendiri kembaliannya. Saya keluarkan seluruh uang yang ada di saku saya, agar pembeli leluasa mengambil kembaliannya,” terang Yusuf.

Ketika ditanyakan kepadanya, sejauh ini ada ngga yang menipunya? Dia menjawab, “Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada, mudah-mudahan selamanya tidak ada,” ungkapnya.

Awal ia menjual kerupuk, karena dimodalin orang dengan modal kepercayaan. Itu hanya awalnya saja. “Setelah itu dari keuntungan yang saya peroleh saya modal sendiri,” terang Yusuf.

Sejauh ini, kata Yusuf, dia belum terpikir untuk mengalih profesi dengan mencari pekerjaan lain. ” Saya masih nyaman di jualan keurupuk,” tuturnya.

Dulu Yusuf, waktu bujangan, juga pernah menjadi tukang pijat di Jogjakarta selama 6 tahun. Setelah menikah sejak tahun 2008, ia memutuskan alih profesi jadi pengamen dan kemudian sekarang menjadi penjual kerupuk. Tapi, untuk menjadi pengemis? “Alhamdulillah sampai saat ini tidak terpikirkan,” pungkasnya.

Hujan mulai reda, KBK pun pamitan untuk melanjutkan perjalanan, sementara Yusuf masih bertahan untuk memastikan hujan benar-benar berhenti, agar kerupuk yang ia bawa tidak rusak dan masih dapat dia jual selama perjalanan pulang atau esok harinya. Kalau kerupuknya habis, ia tinggal telepon agennya dan di antar ke rumah kontrakkannya.

 

Advertisement