BOJONEGORO – Resiko yang tinggi di sekitar wilayah yang dilalui Sungai Bengawan Solo tinggi, sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, sebagai salah satu kabupaten yang dilalui Bengawan Solo, mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro, Sukirno, menjelaskan, bahwa sejak tahun 2002 hingga 2015 jumlah bencana alam mengalami peningkatan hampir 80 persen. Hal itu disebabkan karena bencana Hidro Meteorologis (air dan cuaca) banjir, kekeringan, kebakaran hutan, longsor dan gelombang pasang.
“Meningkatnya bencana hidro meteorologi disebabkan karena iklim global dan pengaruh besar manusia,” ujarnya, Selasa (20/9/2016), seperti dilaporkan beritajatim.
Sebagai upaya mengurangi resiko bencana tersebut, BPBD Bojonegoro mengajak sejumlah Kepala Desa (Kades) yang berada di sekitar Sungai Bengawan Solo untuk menjaga dan melakukan pembersihan sungai. Salah satunya dengan melakukan sekolah sungai.
Sekolah sungai ini, kata dia, bertujuan meningkatkan kembali semangat gotong royong sebagai bentuk keberlanjutan kebudayaan masyarakat. Menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan tentang pengelolaan sungai melalui jalur pendidikan.
Selain itu bisa juga untuk menciptakan jejaring atau komunikasi pinggiran sungai sebagai agen restorasi dan volunterism dalam memperkuat dan mengembangkan gerakan pengurangan risiko bencana, dan mengembangkan program gerakan pengurangan risiko bencana Indonesia.
Program sekolah sungai, menurut Sukirno, pada tahun ini dilakukan di tiga sungai, seperti Sungai Brantas, Sungai Citarung Jawa Barat, dan Sungai Bengawan Solo. Di wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, salah satunya di Kecamatan Kalitidu, Trucuk, Malo, Dander, Bojonegoro dan Kapas.
“Daerah-daerah tersebut nanti sebagai daerah percontohan pengelolaan sungai,” pungkasnya.
Sementara untuk melakukan Sekolah Sungai ini pihak BPBD hari ini melakukan sosialisasi bersama dengan pihak-pihak desa. Setelah adanya sosialisasi ini pihak BPBD berharap pihak desa menindaklanjuti program tersebut.
Sementara itu Kepala Desa Srendeng, Muslih mengaku warganya kini sudah tidak mengotori air sungai dengan buang air besar seperti dulu, “Desa Srendeng sekarang sudah membuat ODF agar masyarakat tidak melakukan buang air besar di sungai,” ujarnya.





