44 Wisatawan Gunung Rinjani Belum Ditemukan

Gunung Rinjani
Gunung Rinjani, Lombok/ voyagegrandv.com

LOMBOK – Sejak meletusnya gunung Barujari pada Selasa (27/9/2016), ratusan wisatawan terjebak di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dan tim evakuasi langsung bergerak mengeluarkan mereka. Namun, hingga kini masih ada 44 wisatawan yang belum ditemukan dan tidak terdeteksi keberadaannya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, Muhammad Rum mengatakan, sebanyak 44 orang wisatawan tersebut terdiri dari wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Muhammad Rum menyampaikan, pihaknya bersama tim baik unsur Basarnas, TNGR, Kepolisian terus melakukaan pendataan jumlah wisman maupun wisnus yang sudah masuk di kawasan Gunung Barujari untuk diminta keluar dari radius 3,5 kilometer.

Berdasarkan data yang masuk ke TNGR pada 25 September melalui pintu Sembalun untuk Wisman sebanyak 86 orang, dan pintu Senaru 16 orang. Sedangkan Wisnus hanya melalui pintu Sembalun sebanyak 30 orang.

Kemudian, pada 26 September, sebanyak 136 wisman masuk melalui pintu Sembalun dan 38 lainnya lewat pintu Senaru. Sedangkan, 18 wisnus melalui pintu Sembalun. Sehari setelahnya, tercatat 112 wisman masuk melalui pintu Sembalun, dan 20 lainnya lewat pintu Senaru. Sedangkan, delapan wisnus melalui pintu Sembalun. Total wisatawan pada rentang waktu sejak 25 September hingga 27 September sebanyak 464.

Setelah meletusnya Gunung Barujari pada 27 September, Pos Pengamatan TNGR mengeluarkan rekomendasi kepada seluruh wisatawan untuk keluar dari area tersebut. Muhammad Rum menyampaikan, sebanyak 420 wisatawan telah keluar dari area tersebut pada 28-29 September.

“Artinya, yang masuk 464 orang, sedangkan yang keluar 420 orang, dan tersisa 44 orang,” katanya di Media Center Pemprov NTB, Kota Mataram, NTB, Jumat (30/9/2016), dikutip dari Republika.

Menurutnya, perbedaan selisih jumlah wisatawan yang masuk dan keluar dikarenakan ada yang keluar tidak melalui pintu Sembalun dan pintu Senaru. Ia menilai, kemungkinan wisatawan tersisa masih ada di sekitar pos-pos yang ada.

Jarak pos yang terdekat dengan kaldera adalah 3,5 kilometer, sehingga keberadaan mereka masih ditoleransi. “Karena, yang harus steril adalah radius 3 km dari kaldera,” katanya.

Advertisement