Ilmu garam dan ilmu gincu bermula dari ungkapan Bung Hatta, co-proklamator dan wapres pertama RI, tahun 1976 dalam rangka mendidik umat Islam Indonesia agar lebih arif dalam memperjuangkan cita-cita politik Islam.
Kedua ilmu itu disosialisasikan lebih lanjut olehProf. Dr. Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, dalam bukunya “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”. Buku itu diterbitkan dua kali. Edisi pertama tahun 2009. Edisi kedua 2015 dalam rangka memaknai hari ulang tahun ke 80 Buya Syafii.
Buya mengutip Bung Hatta yang mengatakan: “Umat Islam supaya memakai ilmu garam: terasa tetapi tidak kelihatan. Bukannya ilmu gincu, kelihatan tetapi tak terasa!” Sekalipun Bung Hatta tidak menguraikan lebih lanjut makna ungkapan itu, Buya menganggap itu sebagai panduan strategi kultural umat Islam yang teramat penting untuk direnungkan dan diamalkan.
Kedua ilmu itu diungkapkan sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang telah mendorong Bung Hatta membentuk parti baru PDI (Partai Demokrasi Islam). Pertanyaan itu dijawab: “Tujuan pokoknya adalah untuk mendidik umat Islam di Indonesia bagaimana sebaiknya berpartai dengan asas Islam itu di suatu kehidupan demokrasi yang bertanggungjawab dalam suatu negara yang berdasarkan Pancasila.”
Buya yang juga “urang awak”, tertarik dengan kedua ilmu dari Bung Hatta itu. Alasannya, di situlah terletak masalah krusial yang selama puluhan tahun membebani perasaan umat Islam Indonesia ketika berbicara tentang hubungan Islam dan politik. Ia mengelaborasi kedua ilmu dengan mengatakan, ketika garam larut dalam makanan, bekasnya tidak kelihatan, tetapi pengaruhnya dalam cita rasa makanan sangat menentukan. Sebaliknya, gincu yang dipakai kaum perempuan, terbelalak di bibir, tapi tunarasa.
Dalam ungkapan lain, ilmu garam itu diterjemahkan sebagai “Islam inklusif” atau “substantif”, sedangkan ilmu gincu itu sebagai “Islam eksklusif”, atau “eksplisit” dengan menunjukkan simbol-simbol. Orang Jawa bilang itu sebagai “Islam Hakekat” dan “Islam Sarengat (Syariat)”.
Sesuai dengan era kebebasan mengemukakan pendapat, ilmu gincu itu kini mewujud dalam “Islam yang artikulatif”. Pihak yang kurang berkenan menyebutnya sebagai “Islam yang berisik”.
Ilmu garam itu benar. Ilmu gincu juga tidak bisa disalahkan. Apalagi kini dalam era kemajuan teknologi informasi digital, yang melahirkan media sosial yang serba spontan. Cepat dan ekspresif, warna-warni. Ada yang menyebut penampilan media sosial sekarang sebagai “narsis” atau “selfie”. Kedua ilmu itu diperlukan sekaligus, karena saling melengkapi: ya substansi, ya simbol. Persoalannya adalah kemampuan untuk meramu kedua ilmu dalam satu paket yang pas demi tercapainya tujuan yang diharapkan.
Harus diakui, sekarang justru kemasan sering lebih menarik dan menjual daripada isinya. Kini ajaran-ajaran yang bernilai luhur, perlu disampaikan dengan kemasan yang menghibur. Maka, lahirlah istilah “infotainment” (informasi dan hiburan) dan “edutainment” (edukasi dan hiburan). Bahkan, kini seringkali unsur hiburannya lebih dominan atau menonjol daripada nilai luhur yang ingin disampaikan. Dan, hiburan itu yang justru lebih disukai dan gampang “masuk” dalam benak publik.
Bung Hatta dan Buya adalah dua orang tokoh yang terkenal alim, santun, cerdas dan berakhlak mulia. Jadi, mudah difahami kalau keduanya lebih memilih garam daripada gincu yang tanpa rasa. Tapi, jika pilihan itu diajukan kepada pemuda sekarang, jawabannya mungkin bisa lain sama sekali.
Gincu kini lebih dikenal sebagai “lipstick” atau “Lippenstift”, yang oleh orang kampung diucapkan “lipensetip” alias cairan pemulas bibir. Tidak harus merah warnanya. Bisa warna-warni, tergantung selera. Saya khawatir jawaban pemuda sekarang bisa jadi: “Setelah itu, saya berkumur-kumur…..”. Walahualam.



