Kekerasan di Myanmar, Puluhan Tewas

Ilustrasi kerusuhan di Rakhine tahun 2012/ Reuters

MYANMAR – Setidaknya 24 orang dilaporkan tewas atas kekerasan yang terjadi pada Senin (10/10/2016) pagi tewas di Myanmar barat tepatnya Kota Maungdaw, sebuah kota di negara bagian Rakhine yang ditempati minoritas Rohingya muslim.

Kekerasan terjadi saat sekelompok penyerang tak dikenal menyerang pos-pos polisi pada hari Minggu di dekat wilayah perbatasan dengan Bangladesh.

Seolah menjadi hari pembalasan, keesokan harinya penyerangan dilakukan para tentara yang membela polisi, “Pagi ini (Senin, 10 Oktober 2016) sekitar 6 pagi, tiga truk aparat keamanan tiba di desa Myothugyi, satu mil dari timur kota Maungdaw, dan tujuh orang telah ditembak mati,” ungkap U Zaw Oo, seorang Rohingya di Maungdaw, dikutip dari New York times.

Sementara itu Hafizul, muslim Rohingya lainnya yang juga seorang relawan organisasi kemanusiaan internasional mengatakan bahwa warga desa takut dengan pihak otoritas, dan orang-orang yang tewas pada hari Senin sebelumnya sudah berusaha melarikan diri setelah pasukan keamanan memasuki desa.

Seorang wartawan yang dengan pasukan keamanan di desa juga mengatakan bahwa penembakan telah terjadi. “Tiga tersangka tewas karena mereka melarikan diri ketika pasukan keamanan memasuki desa,” ungkap Mratt Kyaw Thu, seorang reporter dari Frontier Myanmar.

Kepala polisi Myanmar, Mayjen. Zaw Win, mengatakan bahwa sembilan petugas polisi dengan brutal membunuh selama serangan teror terjadi pada hari Minggu dan delapan militan tewas.

“Para penyerang menggunakan pedang, tombak dan senjata buatan sendiri,” kata Jenderal Zaw Win saat konferensi pers di ibukota, Naypyidaw.

Dia tidak mengidentifikasi penyerang sebagai anggota organisasi tertentu. Namun dia mengatakan mereka “teriak ‘Rohingya! Rohingya! “Dan mereka menggunakan bahasa Bengali.”

Setelah peristiwa tersebut desa menjadi mencekam dan diberlakukan jam malam bagi para warga, untuk menghindari berbagai tindakan kekerasan yang akan terjadi kembali.

Advertisement