Kurangi Sampah, Ibu-ibu di Wonosobo Buat Pembalut dari Kain

Pembalut kain yang dibuat ibu-ibu di dusun Depok Wonosobo untuk mengurangi sampah/ BBC Indonesia

WONOSOBO – Dalam upaya mengurangi sampah, sejumlah ibu-ibu di Dusun Depok, Wonosobo, Jawa Tengah, membuat sendiri pembalut wanita dari kain. Ide ini ditiru oleh dusun-dusun di sekitarnya.

Ide tersebut muncul dari Ganti Astuti (38), salah satu ibu dusun yang rajin mengelola Bank Sampah Berkah Mulya. Setiap melakukan pemilahan sampah antara organik dan non organik, Astuti selalu menemukan sampah pembalut pabrikan sehingga menyebabkan bau dan perasaan tak nyaman.

“Bau, kotor,” katanya. “Akhirnya kami punya solusi dan ide bikin pembalut kain, saya usulkan ke pengurus akhirnya disetujui.” ujarnya, seperti dilansir BBC Indonesia, Senin (10/10/2016).

Pembalut kain yang dibuatnya bisa digunakan berkali-kali dan mudah perawatannya, cukup dibersihkan dengan air dan sabun mandi. Pembalut juga dilengkapi sayap untuk merekatkan ke celana dalam sehingga tidak tidak mudah lepas.

“Hilangkan dulu darahnya, bersihkan pakai air. Kalau darahnya sudah hilang cuci pakai sabun mandi, lalu jemur. Mudah dan aman,” kata Astuti yang kini berperan sebagai seksi penjualan dan pemasaran pembalut kain di desanya.

Semua proses pembuatan pembalut kain dikerjakan ibu-ibu warga dusun yang tergabung di Bank Sampah Berkah Mulya. Uang penjualan yang diperoleh, dimasukan kas dan untuk kemajuan dan kesejahteraan desa.

Setelah adanya pembuatan pembalut dari kain sudah setahun belakangan, sudah jarang toko yang menjual pembalut produksi pabrikan di Dusun Depok.

Kesuksesan pembalut kain Dusun Depok tak lepas dari pemerintah desa yang sejak setahun lalu menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) pada 2015 yang mewajibkan para perempuan di empat dusunnya menggunakan pembalut kain yang diproduksi sendiri oleh para penjahit lokal.

“Warga yang masih menggunakan pembalut sintetis, kita lakukan pembinaan. Kita kasih masukan dan motivasi sehingga hampir semua perempuan di sini sudah menggunakan pembalut ramah lingkungan,” kata Agus Martono (46), Kepala Desa Wulungsari.

Martono menjelaskan selain mengurangi sampah, penggunaan pembalut bekas pakai juga bisa menekan ongkos pengeluaran rumah tangga.

“Tidak hanya pembalut, dalam Perdes juga mengatur tentang popok untuk anak. Jadi dengan Perdes ini harapannya seluruh warga desa menggunakan pembalut dan popok ramah lingkungan,” terang Martono.

Meski berharap semua warganya memakai pembalut kain yang ramah lingkungan, Martono mengaku tidak akan menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggarnya. Namun ia hanya dilakukan penyadaran dan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari pembalut buatan pabrik.

Advertisement