JAKARTA (KBK) – Aroma bumbu kacang sontak menggerayangi indra penciuman ketika plastik penutup pecel dibuka oleh Turiah. Wajahya yang penuh peluh perlahan mengembangkan senyum ketika pembeli datang menghampiri dirinya.
Sedari usia muda Turiah sudah berjualan makanan khas jawa tersebut. Lapak pecelnya pun sederhana, ia hanya menggelar dagangannya di sebelah Musola lembaga bimbingan belajar bahasa inggris yang terletak di bilangan Jalan Pemuda, Pramuka, Jakarta Timur. Tak hanya pecel, nenek berusia 65 tahun itu juga menjajakan kudapan pelengkap pecel seperti kerupuk mie, bakwan dan aneka gorengan.
Ketika hari menjelang siang Turiah atau yang akrab disapa mbok pecel sudah bersiap diri menempuh perjalanan sejauh 5 kilo meter sambil menggendong gembolannya menuju lokasi berdagang. Panas terik dan padatnya lalu lintas di seputar Jalan Pemuda sudah menjadi hal wajar bagi nenek 2 cucu tersebut.
Di Jakarta pun Turiah mengontrak sebuah rumah dekat Balai Rakyat Utan Kayu samping SLTPN 7 Utan Kayu dengan biaya sewa Rp 300 ribu per bulan. Menurut informasi yang didapat KBK, Nenek yang masih kental logat jawanya tersebut memiliki 1 anak namun memiliki keterbatasan fisik, anak Turiah tidak bisa bicara sedari kecil akibat sakit yang dideritanya. Anak semata wayangnya tersebut lantas tak kunjung dibawa Turiah ke Rumah Sakit karena keterbatasan biaya.
Sedangkan kedua cucu Turiah seolah tidak peduli lagi dengan kondisi sang nenek. Selama mengais rejeki di Ibu Kota hambatan yang ditemui Turiah tak hanya itu, usianya yang makin menua membuat pendengaran Turiah mulai terganggu. Praktis kini Turiah berjualan dengan keterbatasan pendengaran.
“Satu bungkus pecel lima rubu saja, murah meriah,” ungkap Turiah kepada KBK, di lokasi berjualannya, Selasa (11/10/16).
Penghasilan yang didapat Turiah tak menentu, menurutnya yang penting dapat digunakan untuk menyambung hidup dan membayar kontrakan yang terkadang kerap naik secara tiba-tiba. Waktu istirahat yang dirasakan Turiah juga terbatas, ia baru kembali ke kontrakannya setelah adzan isya berkumandang dan sudah harus bersiap berangkat ke pasar guna belanja sayur mayur bahan dasar pecel sebelum matahari terbit.
Ketika hari libur, Turiah menggeser dagangannya ke depan Universitas Islam Jakarta dengan harapan mendapat pembeli dengan jumlah yang lumayan. Semangat hidup Turiah patut diacungi jempol di tengah perkembangan metropolitan Jakarta dimana sebagian masyarakatnya mengambil jalan pintas untuk memperkaya diri.





