Taring Babi Membuat Anak Punk Lebih Produktif

Foto Aditya kbk

JAKARTA (KBK) – “Ini namanya proses cetak, caranya mirip kaya menstempel,” kata Muhammad Alfi Ridho (22) salah seorang anggota Komunitas Punk Marjinal Taring Babi sambil menginjak-ijnak cetakan sablonan yang diletakan di atas kaos abu-abu.

Sejak bergabung ke dalam komunitas Taring Babi (Tarbi) Alfi begitu ia akrab disapa menjadi lebih produktif. Tidak seperti anak punk pada umumnya yang “berkeliaran” di jalan, di komunitas ini semua punk memiliki keahlian yang mampu mendatangkan lembaran rupiah berkat pelatihan pemberdayaan yang diberikan Mike dan Bobby Firman Adam, anak punk pendiri komunitas.

Bagi Alfi cara hidup yang ia jalani saat ini sangat memberikan makna tersendiri. Ia merasa ekspresinya dapat tersalurkan sekaligus bisa mencari penghasilan halal meski berbagai motif tato menempel di tangan kiri dan punggung.

Sambil merapihkan kaos yang habis ia injak, Alfi berkisah saat awal menjadi punk pihak keluarga sempat melontarkan banyak pertanyaan karena punk identik dengan perbuatan negatif.

“Saya jadi punk sejak kelas 3 SMP, keluarga pada tanya-tanya. Setelah saya berkarya di sini dengan memproduksi kaos cukil dan memberi tahu tujuannya apa, lama-lama saya diperbolehkan,” ucap pria yang meyandang pendidikan terakhir kejar paket C itu.

Julian Noval (21) anggota Tarbi lainnya juga demikian. Ia memilih menjadi punk karena dinilai bebas dalam menjalani kehidupan, terlebih setelah mendapat restu dari orang tua. Di komunitas yang bermarkas di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan itu Noval disibukan dengan kegiatan memproduksi kaos sablonan.

“Saya lagi kejar target produksi 120 kaos dalam waktu 2 hari ini, satu kaos kami hargai seratus ribu,” kata Noval sambil melekatkan tinta sablonan ke dalam cetakan.

Hal serupa juga dikatakan Bemo (30), bagi ayah satu anak ini punk ialah menjadi diri sendiri tanpa dikekang dan diatur oleh pelbagai aturan baik yang tertulis maupun lisan. Kendti demikian Bemo tak semena-mena terhadap peraturan masyarakat yang telah membudaya.

“Awalnya saya dipandang sebelah mata oleh tetangga karena tatoan dan berambut gimbal, setelah saya meyakinkan mereka dengan perbuatan dan kegiatan positif akhirnya saya diterima menjadi bagian dari masyarakat. Itu prosesnya panjang,” kata pria jebolan S1 Ekonomi Udinus Semarang itu.

Selain menyablon, anak punk yang tergabung di Komunitas Tarbi juga berkarya an produktif di bidang seni merajah tubuh dan rekaman suara. Selain itu Komunitas Tarbi juga aktif terlibat di berbagai kegiatan sosial masyarakat sekitar dan peduli lingkungan.

Advertisement