Ketika Anak Punk Peduli Masalah Sosial

Foto Aditya KBK

JAKARTA (KBK) – Ruangan berlantai putih itu tampak seperti studio musik. Poster-poster berisi suara rakyat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah berwara hitam kuning yang melekat di dinding membuat suasana ruangan makin gelap. Ditemani secangkir kopi hitam, Mike (40) mulai bercerita tentang arti punk hingga menanggapi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat.

Sejak mendirikan Komunitas Punk Marjinal Taring Babi (Tarbi) 20 tahun lalu, Mike mengaku masih fokus  untuk memerangi diskriminasi punk dari segala jenis anggapan dan tudingan negatif yang kerap beredar di masyarakat awam.

Hal itu ia buktikan dengan berbagai kegiatan positif dan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar tempat markas Komunitas Tarbi berdiri di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Tak tanggung-tanggung meski tubuh penuh tato dengan model rambut cepak dan gondrong, Mike bersama punk lainnya sudi membantu masyarakat seperti dalam pembangunan jembatan, kerja bakti, jumat bersih sampai mendampingi korban gurusan bukit duri dan ikut aksi tolak reklamasi Teluk Benoa, Bali.

“Punk itu adalah sesuatu yang mewakili semangat hidup, bahkan sedari lahir seorang anak sudah bisa menjadi punk. Punk merupakan sebuah terminologi dimana didalamnya memiliki banyak pemaknaan, penafsiran dan semangat untuk kemudian membawa kita ke sebuah perubahan dengan landasan menjadi diri kita sendiri dengan berbagai pembuktian,” ungkap Mike kepada KBK, di Jagakarsa (14/10/16).

Mike mengungkapkan dengan menjadi punk alias menjadi diri sendiri, ia merasa lepas dan semakin peduli dengan isu-isu kemanusiaan. Sepulang dari Eropa 28 September lalu Komunitas Tarbi masih disibukan dengan mendampingi aksi kemanusiaan, belakangan ia memberikan suport terhadap warga korban gusuran Bukit Duri dengan menggelar pentas band ditengah puing-puing bangunan.

Selama menjadi punk Mike memiliki cita-cita mulia, ia ingin mengajak seluruh masyarakat untuk menghargai sesama manusia, menghargai kebebasan berekspresi guna terciptanya tatanan masyarakat yang adil dengan menjunjung tinggi nilai saling menghormati.

“Mereka yang menganggap dirinya punya kuasa tidak semestinya bertindak semena-mena terhadap rakyat kecil. Bukannya saya tidak mendukung pembangunan, tetapi pembangunan harus disertai dengan aspek keadilan dan kemanusiaan untuk menciptakan manusia yang beradap,” jelas bapak dari 3 orang anak itu.

Kepedulian Mike terhadap isu-isu kemanusiaan makin menjadi-jadi setelah dirinya pulang dari Negri Matahari Terbit setelah menerima undangan dari sebuah kelompok punk Jepang. Mike mengaku ingin pola hidup punk Jepang juga dapat tumbuh di Indonesia lengkap dengan kebijakan pemerintahnya.

“Di Jepang saya diajarkan untuk saling menghargai, pemerintahnya pun menghormati punk,” pungkas Mike yang mengaku sudah lima kali datang ke Jepang.

Advertisement