Tanah air adalah ungkapan untuk menyebut sebuah negeri atau negara. Mengapa disebut tanah air? Kenapa tidak tanah saja? Apakah ungkapan itu mengandung maksud bahwa tanah dan air tidak dapat dipisahkan? Memang, air berada di dalam tanah. Tapi, itu tidak berarti air berlimpah ruah dan mudah didapat di negeri ini di sembarang tempat dan waktu. Kecuali, dalam musim penghujan. Apalagi, ketika banjir.
Dalam musim kemarau panjang yang melanda Indonesia tahun 2015 ini banyak daerah berteriak tentang kelangkaan air untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Ini membuktikan bahwa air memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Air adalah sumber kehidupan.
Berbagai pikiran tiba-tiba menggoda, mengusik untuk menelisik, mencari asal-usul ungkapan tanah air ketika sampai Oktober 2015, bulan Sumpah Pemuda, hujan lebat tak juga turun di hampir seluruh tanah air. Di beberapa daerah dilaporkan, hujan gerimis mulai turun. Alhamdulillah, itu lumayan untuk membasahi debu agar tidak berterbangan.
Kering kerontang dan gersang adalah pemandangan umum di mana-mana. Terik matahari menyilaukan mata. Debu berterbangan di jalan-jalan setelah kendaraan bermotor melaju kencang. Sawah dan ladang tampak merana, tanaman meranggas, menjadi layu sebelum mati perlahan-lahan. Bumi terpecah-pecah, menganga. Orang Jawa menyebutnya “nela”.
Semuanya karena kurang air, akibat hujan tidak turun selama beberapa bulan. Lebih dahsyat lagi adalah terulangnya kembali kabut asap pekat, yang timbul akibat kebakaran atau “pembakaran” hutan. Angkasa di atas pulau Sumatera dan Kalimantan dipenuhi asap yang menyesakkan nafas warga setempat dan penduduk negara jiran terdekat, yakni Singapura dan Malaysia.
Korban jiwa mulai berjatuhan, terutama anak-anak, akibat penyakit gangguan pernafasan. Roda perekonomian terganggu karena arus transportasi tersendat atau berhenti sama sekali. Ini akibat gangguan jarak pandang. Beberapa bandara ditutup demi keselamatan penerbangan.
Anak-anak rentan menjadi korban dalam segi kesehatan dan pendidikan. Harap maklum, banyak sekolah terpaksa harus diliburkan. Akibat bencana asap sungguh hebat. Pejabat pemerintah daerah dan pusat dibuat pusing tujuh keliling. Anggota TNI dan peralatannya diterjunkan untuk memadamkan kebakaran hutan. Karena merasa tidak sanggup mengatasi sendiri, Presiden Jokowi terpaksa minta bantuan negara-negara tetangga, yang segera mengirimkan pesawat-pesawat pembom air. Lagi-lagi, air yang pertama kali diperlukan!
Mari kita kembali menelusuri asal-usul ungkapan tanah air, yang menjadi satu dari tiga butir Sumpah Pemuda. Ada bukti kuat bahwa Muhammad Yamin, sastrawan, budayawan dan politisi kelahiran Minangkabau, adalah inspirator Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dari beberapa puisi karyanya, terbaca bahwa istilah tanah air memang mengacu pada kaitan yang erat antara tanah dan air.
Dalam puisinya “Tanah Air”, bertarikh Bogor, Juli 1920, Yamin antara lain menulis sbb:
/Pada batasan Bukit Barisan/Memandang ke pantai, teluk permai/tampaklah air, air segala,…/
Dalam puisinya yang juga berjudul “Tanah Air”, bertanggal Tanah Pasundan, 9 Desember 1922, Yamin mengulangi ungkapannya dengan:/Memandang beta ke bawah memandang/Tampaklah hutan rimba dan ngarai/Lagipula sawah, telaga nan permai/
Hubungan tanah dan air diperkuat lagi dalam puisinya “Indonesia, Tanah Tumpah Darahku”, bertarikh Pasundan, 26 Oktober 1928. Yamin menulis: /Duduk di pantai tanah permai/Tempat gelombang pecah berderai/Berbuih putih di pasir terderai/ Tampaklah pulau di lautan hijau/Gunung gemunung bagus rupanya/ Dilingkari air mulia tampaknya: Tumpah darahku Indonesia namanya/.
Ada juga ungkapan Ibu Pertiwi untuk tanah air, negeri atau negara. Pertiwi itu dalam bahasa Jawa kuno artinya tanah. Ibu Pertiwi diterjemahkan menjadi “motherland” dalam bahasa Inggris. Saya menduga-duga, jangan-jangan ungkapan Ibu Pertiwi dipakai karenajuga ada hubungannya dengan air. Mohon maaf, dengan segala hormat, ibu kita adalah sumber air (susu).



