JAKARTA – Minah, seorang nenek berusia 87 tahun masih harus berjuang untuk mencari makan sehari-hari dengan mengumpulkan beras yang tercecer di Pasar Induk Cipinang, yang terjatuh dari karung-karung yang diantar para kuli beras.
Ia tidak sendirian, banyak orang-orang yang senasib dengannya berlomba mengumpulkan beras yang sudah bercampr dengan tanah dan debu. Setelah sepuluh tahun kegiatan tersebut menjadi mata pencahariannya, kini ia tidak ingin memaksakan tubuhnya yang semakin melemah, ia hanya mengumpulkan beras semampu kondisi fisiknya.
“Dulu bisa banyak dapatnya. Sekarang paling banyak 10 liter, itupun kalau kondisi saya sedang sehat,” kata Aminah sambil terengah, Selasa (18/10/2016), dikutip dari Warta Kota.
Karena beras yang dikumpulkan Minah adalah beras tidak layak makan, maka beras-beras tersebut akan dibeli orang yang membutuhkan beras untuk makan ayam peliharaan.
“Berasnya itu buat makan ayam. Seliter harganya Rp 4 ribu. Kalau sudah langganan ya saya jualnya Rp3500. Tapi kadang ada beras yang layak makan, saya bawa pulang. Tapi jumlahnya sangat sedikit,” jelasnya.
Dari situlah ia bisa menyambung hidupnya dan membayar sewa kontrakan yang ia tempati bersama kedua temannya yang juga sama berprofesi memungut beras sisa.
Nenek asal Solo ini mengaku pindah ke Jakarta sepuluh tahun silam karena di PHK pabrik rokok tempatnya bekerja di Madiun.
Kini, sepuluh tahun sudah ia berjuang hidup untuk makan, bahkan kadang tidak makan jika musim hujan tiba, karena beras yang dikumpulkannya bercampur lumpur.
“Kalau hari biasa kan bisa makan dua sampai tiga kali sehari, meskipun kadang nggak pakai lauk juga. Kalau musim hujan, ya saya sering puasa. Bukan semata-mata karena ibadah, tapi nggak ada yang dimakan,” kisahnya.
Namun baginya masalah makan bukan hal yang penting, karena menurutnya lebih penting bisa tidur meskipun di tempat yang sangat sempit.





