CIANJUR – Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Disnakanlut) Cianjur, Jawa Barat, terpaksa meracun 1.000 kera dan anjing liar untuk mengantisipasi penyebaran rabies di wilayah tersebut.
Hal tersebut terpaksa dilakukan karena warga yang digigit hewan rabies meningkat dibandingkan tahun lalu. Seperti diungkapkan Kepala Seksi Bina Kesehatan Ikan dan Hewan Disnakanlut Cianjur, Agung Rianto di Cianjur, sepanjang tahun 2016, pihaknya menggencarkan pemusnahan hewan yang terjangkit rabies karena tahun lalu rabies menelan korban jiwa.
“Tahun lalu 13 orang digigit hewan penular rabies, tiga orang di antaranya meninggal. Tahun ini dari Januari sampai Oktober ada 20 orang yang digigit sehingga kami gencarkan penanganan rabies di sejumlah wilayah,” katanya, dilansir Antara, Selasa (25/10/2016).
Untuk menangani rabies dapat dilakukan dengan dua cara, vaksinasi dan eliminasi atau meracun hewan penular rabies. Dari kedua cara tersebut eliminasi dinilai lebih efektif, meskipun kerap berbenturan dengan aktivis yang peduli terhadap hewan.
“Di satu sisi memang hewan perlu dilindungi dan diperlakukan secara baik, tapi di sisi lain hewan yang terkena rabies mengancam keselamatan warga,” katanya.
Kebanyakan hewan penular rabies tidak ada pemiliknya alias liar. “Akibatnya ketika mengigit, tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab,” katanya.
Meskipun tanpa diberi racun hewan penular rabies akan mati seiring waktu, namun dalam jangka waktu tersebut banyak kemungkinan, termasuk hewan mengigit warga sehingga perlu diantisipasi.
Dinas telah berkoordinasi dengan kabupaten/kota lain dalam menangani hewan penular rabies, namun letak geografis kerap menghambat upaya tersebut.
“Koordinasi sudah kami lakukan dengan berbagai pihak namun daerah pelosok seperti Naringgul, Takokak dan Pasirkuda yang berbatasan dengan Bandung sulit dijangkau,” ucapnya. Pihaknya juga menargetkan tahun 2018 nanti Cianjur akan bebas rabies.




