Eks Sandera Somalia Merasa Pembebasan Sebagai Mukjizat

Penyerahan eks sandera Somalia kepada keluarga diwarnai tangis haru/ Foto; Metrotvnews

JAKARTA – Kebebasan yang kini dirasakan empat dari lima pelaut korban penyanderaan perompak Somalia yang berhasil diselamatkan dan telah dipulangkan ke Indonesia diakui sebagai mukjizat oleh keempatnya.

“Kita masih trauma, kita masih takut. Kita tidak tahu apa yang kita rasakan, bahkan kita berdiri di depan ini semua kita tidak percaya sama sekali. Apa ini mimpi? Kita tahu ini semua mujizat. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Sudirman, salah satu sandera asal Medan.

ia mengisahkan awal kejadian saat mereka ditangkap pada 26 Maret 2012 di kapal FV Naham 3 ketika berlayar di di selatan perairan Seychelles.

“(Penyanderaan terjadi) pada pukul 2 malam. Saat ABK semua selesai bekerja terdengar suara tembakan. Tembakan membabi buta yang menyebabkan kapten kami tewas. Kami lari ke mana saja, ke ruang mesin, yg penting tidak terlihat pembajak Somalia.” tuturny, sebagaimana dilansir BBC, Selasa (31/10/2016).

Selama 1,5 tahun mereka disandera di dalam kapal dan tiga tahun sisanya mereka berada di daratan di Somalia. “Kegiatannya selama tiga tahun di Somalia, tidak ada. Cuman pas sore, kita kan masak pakai kayu bakar, jadi ya kita mencari kayu.” ujarnya.

Parahnya, saking kelaparan mereka kerap makan hewan liar seperti tikus dan kucing, bahkan bisa mendapat hukuman jika ketahuan. “Kalau ketahuan ada ganjarannya. Kita bakalan diikat, kaki dengan tangan bertemu di belakang dada, seperti huruf ‘U’. Itu sakit sekali. Kalau tidak terlihat tidak ada masalah.” ungkapnya.

Kekerasan yang kerap dihadapi para sandera diakui Sudirman membuatnya traumatik bahkan sampai sempat kehilangan iman.

“Melihat apa yg mereka lakukan itu, di saat itu iman saya tidak ada lagi. Jatuh. Saat di sana saya tidak pernah bersujud ke Allah SWT. Saya akui iman saya habis. Karena apa? Apa yang mereka buat ini salah, tidak benar. Ajaran Muslim tidak boleh menyakiti yang tidak sesama Muslim, apalagi sesama (Muslim), saudara.” tambahnya.

Kini, ia bersama ketiga sandera lainnya Supardi (34 tahun) asal Cirebon, Jawa Barat, Adi Manurung (32 tahun) asal Medan, dan Elson Pesireron (32 tahun) asal Maluku sudah diserahkan Kementeriaan Luar Negeri kepada keluarga masing-masing. Satu sandera lainnya, Nasirin asal Cirebono sudah meninggal dunia karena sakit ketika disandera.

Advertisement