MEKSIKO – Koordinator Kesehatan Universitas Otonomi Nasional Meksiko (UNA), Rodolfo Nava menngungkapkan jika rakyat Meksiko terancam risiko depresi dan gangguan jantung karena jam kerja yang panjang.
“Jika seseorang bekerja 11 jam per hari, mereka dua kali lebih mungkin untuk terserang depresi. Jika mereka bekerja 55 jam per pekan, risiko mereka terserang serangan jantung adalah 33 persen lebih besar,” tulis akademikus tersebut di dalam satu siaran pers.
Menurut Nava, satu bagian besar masalah itu ialah majikan di Meksiko merancang jadwal kerja dengan sedikit pengawasan dari pihak berwenang.
“Mereka menetapkan jam masuk dan keluar, gaji, tingkat hirarki di perusahaan dan bahkan tanggung jawab kerja setiap orang. Pada saat yang sama, mereka menghentikan setiap upaya untuk membuat peningkatan bagi lingkungan hidup ini,” katanya.
Hingga kini Meksiko memiliki salah satu “peraturan paling terbelakang … sampai tahap bahwa itu tidak mengakui penyakit yang timbul dari tekanan di tempat kerja”, ia menambahkan.
Menurut OECD, Meksiko adalah anggota tempat orang bekerja dengan jam kerja paling lama per tahun, rata-rata 2.246 jam, seperti dilansir Xinhua, yang dipantau Antara, Rabu (2/11/2016).
Hal tersebut dapat menimbulkan masalah fisik, psikologis dan kegiatan sosial, sebab bekerja berlebihan secara negatif mempengaruhi hubungan keluarga dan antar-pribadi.
“Paradoks tersebut ialah negara kami terus-menerus mencatat tingkat produktivitas paling rendah di OECD, sedangkan Jerman memiliki yang paling tinggi,” tulis akademikus itu.
“Kapan saja kami berusaha mengangkat masalah ini, ada penentangan dari perusahaan. Misalnya, satu daftar baru penyakit tempat kerja dijelaskan secara terperincia lima tahun lalu, tapi tak pernah menyaksikan cahaya untuk menekan pemilik usaha,” imbuhnya.





