SUKSES kadang diawali dari “stress” di kala reses. Contohnya Aulia Deviyanti, warga Padang Panjang, Sumatera Barat ini. Saat cemas akan masa depan yang tak menjanjikan, ketika libur mengajar dia mengisi waktu dengan jualan goreng-gorengan di depan rumah. Ternyata laku, pilihan konsumen lebih banyak pada risoles. Hari berikutnya Aulia mengkhususkan jualan risoles, tambah laku keras. Tak peduli akan gengsi, meski dosen yang sarjana S2, dia pilih berhenti mengajar dan jualan risoles. Kini dia memiliki gerai risoles di berbagai kota di Sumbar dan punya banyak karyawan.
Seandainya angkatan muda Indonesia bersikap macam Aulia Deviyanti, niscaya angka pengangguran cepat terkikis habis. Negara tak perlu jadi eksportir TKI dan TKW, karena anak negeri mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Mereka takkan merengek pada negara untuk dicarikan pekerjaan. Fakta di lapangan menunjukkan, demi peluang kerja banyak yang malah dikerjain calo tenaga kerja. Sudah keluar uang berjut-jut bolehnya jual ini itu di kampung, tapi tetap saja menjadi panji klanthung (penganggur).
Angka pengangguran di negeri kita tercatat 7,02 juta hingga Mei 2016, begitu kata BPS (Badan Pusat Statistik). Maklum, setiap tahun SMTA dan perguruan tinggi selalu menciptakan penganggur-penganggur baru. Tak semua lulusannya tertampung. Ada pengangguran terbuka, ada pula pengangguran tertutup. Jenis terakhir adalah mereka yang pekerjanya tak menentu. Ditanya orang jawabnya: kerja di PT Tempo, padahal maksudnya, tempo-tempo kerja, tempo-tempo tidak.
Sedikit manusia Indonesia yang siap melawan pengangguran macam Aulia. Dia sadar bahwa terbelenggu oleh gengsi justru akan menjadikan bau terasi. Bayangkan, dia seorang dosen S2, yang di kampus segala omongannya akan dicatat dan jadi referensi mahasiswanya. Tapi demi masa depan yang lebih baik, semua gengsi itu ditinggalkannya. Dia tak peduli akan omongan orang, “Kuliah mahal-mahal kok cuma jualan risoles.”
Manusia Jawa punya filosofi, nganggur iku bantale setan (baca: menganggur mudah tergoda setan). Tapi orang Jawa juga punya loyalitas tinggi akan gengsi itu. Paling sepele misalnya, meski perut lapar ketika ditawari makan di rumah orang akan menjawab, “Matur nuwun, nembe mawon (terima kasih, baru saja makan).” Padahal pada perutnya yang maha dalam sana, sedang dinyanyikan stambul dua “Cacing Kelaparan”.
Merunut kisah masa silam, demi gengsi yang tinggi, Panembahan Senapati raja Mataram pertama (1587-1601) tega membunuh Kiageng Mangir anak menantu sendiri. Meski putrinya, Putri Pembayun istri Kiageng Mangir sedang mengandung sang cucu, tetap saja dijedotin ke dampar (kursi singgasana) hingga pecah kepala dan tewas. Soalnya, Kiageng Mangir melawan kekuasaan Mataram, atau kontra revolusi istilah Bung Karno.
Sebelum Indonesia merdeka, banyak lurah atau Kades mengeksploitir rakyat. Di Purworejo tahun 1940-an, pernah seorang warga yang merasa keturunan ningrat, enggan kerja bakti bersama warga di rumah Lurah. Alasannya, sebagai priyayi pantang pundak dan bahunya ketindhihan sigaran pring (baca: memikul). Dia “dideportasi” dari tanah kelahirannya, dan hidup menderita di Lampung hingga para keturunannya sekarang.
Gengsi yang tinggi justru menciptakan pengangguran. Ombyokan sarjana mengaggur karena pantang kerja kasar demi membanggakan titelnya. Banyak pula sarjana nganggur karena termakan gengsi dan idealisme. Enggan bekerja karena koneksi seseorang, sedangkan mencari kerja sendiri juga tak kunjung dapat. Karenanya, banyak dibutuhkan anak muda tipe Aulia Deviyanti ini, dosen S2 pilih jualan risoles. Gengsi memang banyak menjadikan anak muda bau terasi. (Cantrik Mataram).





