JAKARTA (KBK) – Pada tahun 2014 tercatat 29,7 persen rumah tangga di Indonesia tergolong miskin mutidimensi. Ada seitar 19,3 juta atau 80 juta penduduk yang masih didera persoalan pendidikan, kesehatan atau standar kualitas hidup.
Berkaitan dengan pendidikan dapat ditingkatkan dengan cara non formal seperti dengan pemuatan konten-konten positif salah satunya dengan media film.
“Film-film berkonten positif di Indonesia sangat sedikit penontonnya. Padahal sebuah film berkonten positif dapat mengubah perilaku penonton,” ucap Helvy TianaRosa seorang penulis sekaligus produser film, dalam acara FGD bertema Mendukung Konten Positif melalui Film untuk Anak-anak dan Remaja Indonesia, di Jakarta, Kamis (03/11/16).
Helvy mengatakan kurangnya film berkonten positif di Indonesia tak terlepas dari jumlah produser yang minat terhadap konten tersebut. Selain itu biaya promosi yang minim juga menjadi penyebab film berkonten positif tak banyak di tonton anak-anak.
Guna meningkatkan jumlah penonton anak-anak terhadap film berkonten positif, Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya Dompet Dhuafa Bambang Suherman yang hadir dalam acara FGD mengatakan, Dompet Dhuafa siap membantu dengan program 300 ribu sedekah tiket film.
Bambang berujar, dari segi kontribusi saat ini media sebagai sumber informasi termudah yang diakses anak-anak telah terjebak persaingan sehingga apa yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan yang di tayangkan. Oleh karena itu Bambang berharap supaya ada sinergi antar lembaga guna mencegah anak mengakses konten negatif.
“Anak-anak dari keluarga miskin jadi obyek pasif terhadap media seperti film, apa pun yang dilihat anak rentan terpapar. Kalau anak dari keluarga miskin mengelola diri sendiri akan terjerumus. Kita harus mendukung terhadap produsksi film berkonten positif,” ucap Bambang.





