SUNGGUH kasihan Pudjo Kastowo (40) dari Ponorogo (Jatim) ini. Bertahun-tahun istrinya, Sumini Indrawati (36), bekerja jadi TKW di Malaysia, tapi tak mengubah nasib keluarga. Boro-boro kirim uang, nasibnya sendiri tak jelas ada di mana. Pudjo tetap hidup miskin, tinggal di gubuk reyot bersama dua ekor kambingnya. Tambah ngenes lagi, Dwi Khasanah (13) putrinya tewas kecelakaan lalulintas. Tragis memang. Istri menjadi tenaga kerja luar negri, dia sendiri tak bisa lagi menyalurkan “tenaga kuda”.
TKI dan TKW adalah proyek warisan Menaker Sudomo di tahun 1983. Ketika ekonomi susah dan tenaga kerja mubadzir (penganggur) melimpah, negara tambah pusing. Pemerintah yang kala itu sedang “mengencangkan ikat pinggang”, sebagai Menaker Pak Domo cari solusi. Tokoh Kopkamtib yang mengaku SDSB (Sudomo Datang Semuanya Beres) itu mencoba program “ekspor” tenaga kerja ke luar negeri.
Peminatnya luar biasa. Berjuta-juta penganggur Indonesia, laki perempuan, muda dan kemampo (setengah tua), dikirim ke Malaysia, Brunei, Taiwan, Hongkong, Korsel, Jepang, dan sejumlah negara Timur Tengah. Hasilnya, menggeliatlah ekonomi anak negeri. Para TKI itu berhasil memboyong dolar, ringgit, real, won, yen; untuk mensejahterakan keluarga. Itu bisa dilihat dari bermunculannya rumah-rumah bagus di pedesaan.
Tapi tak semua TKI/TKW bernasib bagus. Seperti halnya Pudjo dari Desa Kertosari, Kecamatan Babadan itu, sejak Samini pergi jadi TKW, tak sekalipun kirim uang. Bahkan nasibnya bagaimana, tinggal di mana, tak pernah ketahuan alang ujur (posisi)-nya. Namun demikian itu masih ada harapan. Sebab sejumlah TKI/TKW benar-benar pupus harapan, karena kehilangan nyawa, akibat pelanggaran pidana berat di negeri orang.
Maka Pudjo Kastowo ini sungguh suami sial kuadrat. Sudah rugi kantong, masih rugi pula di “entong”. Bagaimana tidak? Ketika istri jadi tenaga kerja luar negri, sebagai suami dia tak bisa lagi menyalurkan “tenaga kuda”-nya. Ini fitrah manusia. Qur’an pun menggariskan, “……Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya…..” (Surat Arrum 21).
Tanpa istri, hidup suami memang tak nyaman. Kehidupan Pudjo tambah mengenaskan ketika Dwi Khasanah putrinya, tewas menjadi korban kecelakaan lalulintas. Jenazah bocah itu dilepas dari rumah duka di tempat lain, karena tempat tinggal Pudjo sangat tidak layak. Di era keterbukaan ini, “rumah”-nya juga sangat terbuka karena hanya berdinding gribik (anyaman bambu) yang tembus cahaya. Di “rumah” ukuran 4 X 4 M inilah dia hidup bersama anak dan dua ekor kambingnya.
Nasib Pudjo Kastowo takkan membaik meski sambil memutar kaset gending Subakastowo. Itu pun kalau punya. Dan masih banyak Pudjo-Pudjo lain yang tetap menderita ketika istri menjadi TKW. Maka tak mengherankan banyak yang bilang bahwa pengiriman TKI/TKW itu berbanding lurus akan manfaat dan mudlaratnya. Berbagai kalangan menyarankan, proyek warisan Pak Domo ini sebaiknya dihentikan saja.
Sejak negri kita mengekspor TKI/TKW, silih berganti kabar kapal TKI gelap tenggelam dengan korban tewas puluhan orang. Banyak pula TKI/TKI yang pulang tanpa kepala karena dipancung di Arab Saudi. Belum lagi kisah pemerintah yang tombok miliaran demi menebus terpidana mati, lantaran “diperas” keluarga korban.
Berita-berita demikian selalu membuat orang tersentak. Tapi pemerintah tak pernah berani menyetop TKI/TKW. Paling kontradiktif adalah, di kala kita ekspor TKI/TKW, Presiden Jokowi justru “mengimpor” banyak tenaga kerja –buruh kasar– asal Cina. Owe siap mandi lumpul, haiyaaaa…..! (Cantrik Mataram).





