Lilis: Melawan Penyakit Gula dengan Berkarya

Lilis dengan jahitannya. Foto: DDS

PADANG–Gang sempit penuh bebatuan di Komplek Perumnas Banuaran Indah, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang. Jalanan kecil itu menuntun tim Dompet Dhuafa Singgalang ke rumah sekaligus tempat Ibu Nurlis (48) mengembangkan usaha menjahit.

Buk Lis, begitu beliau akrab disapa. Adalah Penerima Manfaat Pemberdayaan Ekonomi, Program Ibu Tangguh Dompet Dhuafa Singgalang tahun 2012.

Berawal dari keputusasaan mengidap penyakit Diabetes semenjak enam tahun silam, Buk Lis kini memiliki tekad kuat melawan penyakit dengan berkarya. Tekad itu ia tuangkan lewat tangan terampilnya menjahit berbagai jenis bed cover (seprai-red), permintaan pelanggan.

“Dompet Dhuafa lah yang mendorong saya untuk melawan penyakit gula yang saya derita dengan berkarya. Kebetulan saya bisa menjahit, Dompet Dhuafa mendorong saya untuk tidak berputus asa dengan kondisi, tapi harus melawan penykit dengan berkarya,” ungkap beliau mengenang pertama kali ia mengenal Dompet Dhuafa.

Dulu, Buk Lis hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan riwayat penyakit diabetes. Meski memiliki kemampuan dasar menjahit, namun beliau mengaku tak tertarik untuk menjahit kala itu. Ia sempat beranggapan, pendidikannya yang terputus di bangku Sekolah Dasar dan dipaksa masuk sekolah menjahit oleh orangtua, tidak akan membawanya kepada kesuksesan.

“Saya sempat berfikir orangtua saya tidak adil karena saya tidak melanjutkan ke pendidikan di sekolah formal, tapi malah menjahit. Namun sekarang saya sadar, putusan orangtua ternyata besar manfaatnya bagi saya,” kenangnya berbinar-binar.

Mengetahui dirinya mengidap penyakit diabetes, Buk Lis mengaku cukup tertekan.

“Nggak usah penyakit yang ibu fikirkan, tapi pikirkan gimana ibu ingin usaha ini jadi lebih besar, gimana permintaan pelanggan yang harus dieksekusi, dan mendesain bed cover jadi lebih menarik,” Buk Lis menirukan ucapan yang dulu ia terima saat pendampingan tahun 2012 oleh tim Dompet Dhuafa Singgalang.

Berbekal dorongan tersebut, akhirnya Buk Lis memfokuskan diri untuk berkarya. Walau setiap hari ia tak berhenti mengkonsumsi minimal empat macam obat dalam sehari, namun semangatnya berkarya menepis penyakit yang ia derita. Meski kadar gulanya saat ini mencapai 290, namun ia merasa lebih sehat dengan kesibukannya menjahit.

Bagi Dompet Dhuafa Singgalang, Buk Lis adalah satu penerima manfaat yang loyal. Membidik ibu-ibu aktif berlatar ekonomi menengah kebawah di tahun 2012, Buk Lis adalah salah satu yang konsisten dan sukses dalam mengembangkan usahanya dalam Program Ibu Tangguh.

“Bentuk dana yang dikucurkan saat itu adalah pinjaman. Namun, bagi saya sangat besar efeknya, karena pinjaman, berarti saya harus semangat dalam pengembalian, meski tidak ada jatuh tempo mengikat yang diberikan Dompet Dhuafa, namun saya tertantang untuk selalu memutar keuntungan menjadi karya, dan berkatnya, saya tak pernah melakukan pinjaman ke Bank. Disamping menghidari riba, juga diberatkan dengan bunga nantinya,” imbuh Buk Lis.

Saat ia memulai usaha, beliau mengaku pemasaran pertama juga dibantu oleh tim Dompet Dhuafa Singgalang yang mempromosikan karyanya kepada kenalan. Akhirnya, dari pengenalan dari mulut ke mulut, dan didukung dengan hasil karya Buk Lis yang juga Apik, kini Bed Covernya laris di pasaran. Tak jarang ia didatangi langsung oleh pelanggan ke rumah untuk memesan Bed Cover yang seringnya dijadikan kado pernikahan oleh pembeli.

“Alhamdulillah, bantuan yang diberi Dompet Dhuafa Singgalang amat besar manfaatnya saya rasakan. Saya telah sukses melawan penyakit dengan berkarya, tak lagi memikirkan sakit, namun telah mengubah konsep pemikiran saya untuk menghasilkan ide kreatif dalam berkarya,” pungkasnya. (nisa)

Advertisement