Hingar-bingar terkait terbukti atau tidaknya penistaan terhadap agama Islam oleh Gubernur (non-aktif) DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok telah menguras energi dan pemikiran, bahkan membuat persatuan bangsa Indonesia terbelah dua dalam sikap pro-kontra yang tajam.
Perbedaan sikap dan keterpihakan terhadap satu dan lainnya tidak hanya menyeruak di tengah keluarga, tetapi juga diantara sesama tokoh dan ulama Islam sendiri, antara para pakar hukum, pengamat politik dan sampai publik di level akar rumput. Media sosial pun larut dalam hujatan, caci-maki atau bentuk ujaran kebencian lainnya.
Kasus dugaan penistaan agama, jika terus diangkat, dikhawatirkan akan menimbulkan eskalasi yang mengarah pada konflik horizontal berujung perpecahan bangsa. Saat ini sudah menyebar isu, jika hasil gelar perkara tidak memenuhi keinginan pihak-pihak yang menghendaki Akok dijadikan tersangka, unjukrasa susulan yang lebih massif akan digelar lagi pada 25 November.
Unjukrasa damai di Jakarta yang diikuti ratusan ribu peserta pada 4 November lalu, semula bersumber dari kegelisahan umat Islam tentang pemimpin non-muslim dan tersulutnya kemarahan mereka akibat dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, gubernur petahana yang mencalonkan diri lagi.
Selain akibat sensitivitas keagamaan, kasus Ahok bergulir dan diseret-seret ke ranah politik dan juga berbagai kepentingan. Masih segar dalam ingatan publik, perseteruan antara Ahok dengan kalangan DPRD-nya, isu deparpolisasi saat ia memutuskan ikut Pilkada melalui jalur independen, belum lagi persaingan tajam dengan dua pasangan kontestan lain dan tokoh-tokoh di belakangnya.
Hasil gelar perkara yang dilakukan Bareskrim Polri pekan ini akan menentukan, apakah proses penyidikan harus dihentikan atau diteruskan jika bukti-bukti terpenuhi untuk meningkatkan status Ahok menjadi tersangka. Para-pihak selayaknya dapat menerima apapun hasilnya dengan lapang dada. Sejauh ini sudah 66 orang sudah dimintai keterangannya terdiri dari 38 ahli (14 ahli agama, 11 ahli bahasa, delapan ahli pidana, dua ahli antropologi dan masing-masing seorang ahli forensik, jurnalistik dan psikologi ) serta 28 saksi terlapor.
Jokowi, menanggapi isu-isu miring, di berbagai kesempatan menyatakan tidak akan melindungi Ahok, bahkan meminta agar gelar perkara dilakukan terbuka. “Buka saja, biar jelas semua, “ tegas presiden. Namun setelah menyimak berbagai masukan, gelar perkara diputuskan terbuka secara terbatas, demi menghindari perpecahan diantara umat dan sesama komponen bangsa.
Reaksi keras dilontarkan sejumlah pihak atas pernyataan Jokowi sesuai laporan intelijen yang menengarai adanya aktor-aktor politik yang menunggangi situasi di tengah aksi unjukrasa. “Tudingan itu tidak berdasar dan keliru, “ kata Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majeli Ulama Indonesia, Bachtiar Nasir. Menurut dia, pemicu kerusuhan adalah provokator yang tidak diketahui identitasnya, bukan massa pendemo. Kerusuhan antara pendemo dan aparat terjadi di depan Istana Merdeka dan aksi penjarahan di kawasan Luar Batang, Penjaringan terjadi selang beberapa jam setelah aksi unjukrasa yang dijadwalkan, berakhir pada Jumat pukul 18.00 WIB.
Konsolidasi politik dan kenegaraan dilakukan Jokowi secara maraton dengan menemui Ketua Partai Gerindra Prabowo, mantan Presiden Megawati, mengunjungi Mabes TNI di Cilangkap, Mako (Markas Komando) Pasukan Khusus di Cijantung, Mako Brimob di Kelapa Dua dan Mako Marinir di Cilandak. Ia juga melakukan safari kunjungan ke PB Nahdlatul Ulama, PP Muhammadiyah dan menerima puluhan pimpinan Ormas Islam, ulama dan kiyai di istana.
Kepada jajaran TNI dan Polri, pesan Jokowi jelas. “Saya ingin memastikan, semua loyal pada negara, Pancasila dan UUD 45 NKRI dan kebinekaan, “ tegasnya. Sedangkan pada pimpinan lembaga agama, pemuka dan tokoh agama ia berjanji tidak akan mengabaikan aspirasi umat Islam dan tidak akan mengintervensi proses peradilan kasus dugaan penistaan agama yang sedang berlangsung.
Presiden mengingatkan kembali pentingnya sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai di tengah keberagaman dan kemajemukan Indonesia saat bersilaturahmi dengan ribuan ulama yang digelar oleh PKB, Sabtu dan Musyawarah Nasional Alim Ulama yang diselenggarakan PPP di Asrama Haji, Pondok Gede, Minggu.
Rasanya makna pesan presiden cukup jelas untuk disimak dan diperhatikan.





