Pemulung Cuma Cari Untung

Pemulung cari untung
Ilustrasi Pemulung cari untung. Foto: Ist

PEMERINTAH Belanda sangat terkejut, 3 bangkai kapal miliknya yang tenggelam di laut Jawa tahun 1942, tiba-tiba hilang tak berbekas. Padahal dalam penyelidikan lewat kapal selam tahun 2002 lalu, rongsokan kapal-kapal perang tersebut masih ada. Kabinet Belanda 2 hari lalu meminta Indonesia ikut menginvestigasi hilangnya kapal-kapal itu. Lalu apa komentar para netizen di medsos? “Cari saja noh, di lapak pemulung besi tua, pasti ada”.

Sekedar mengingatkan sejarahnya, ketiga kapal perang Belanda Hr.Ms. De Ruyter, Hr.Ms. Java dan Hr.Ms. Kortenaer tenggelam pada “Pertempuran Laut Jawa 1942” dalam upaya membendung invasi Jepang dari arah Jawa Timur. Setidaknya 1.174 prajurit Angkatan Laut Belanda gugur termasuk komandannya, Laksamana Muda Karel Doorman. Sang komandan kini diangkat sebagai pahlawan nasional, namanya diabadikan sebagai nama kapal dan menjadi nama jalan di berbagai kota di Belanda.

Lalu siapa pelaku pencurian bangkai-bangkai kapal itu? Apakah para pemulung besi tua yang lapaknya ada di mana-mana? Sangat tidak mungkin, karena untuk mengambil rongsokan besi tua di kedalaman laut sekitar 50 meter, mereka tak memiliki teknologinya. Kemungkinan besar para pelakunya adalah “pemulung” kelas kakap, yang memiliki piranti-piranti canggih. Di republik ini ada juga perusahaan kapal yang kerjanya cari besi tua di kedalaman samudra Indonesia.

Pemulung secara umum, adalah “profesi” yang paling suka mengecilkan masalah. Melihat rangkaian besi di bangunan busway di Ibukota, otaknya langsung mengkalkulasi: kalau dikiloin laku berapa ya? Begitu pula ketika melihat papan nama jalan yang dipasang Dinas Perhubungan, “Entar malam gue sikat, 5 Kg juga dapat.” Bahkan patung Pak Karbol (dr. Abdulrachman Saleh) di halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba, dicolongnya pula. Mereka tak peduli nilai kejuangan almarhum, yang penting dapat duit berapa jika patung perunggu itu dikilokan.

Karena cuma mau cari untung, para pemulung sama sekali tak memiliki kebanggaan nasional atas prestasi bangsa. Lihat saja Jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dengan Pulau Madura; di awal-awal berdirinya banyak diganggu pemulung. Tengah malam mereka mencoba mencopoti baut-baut jembatan tersebut. Hanya Jembatan Suramadulah satu-satunya jembatan di Indonesia yang setiap malam selalu dipatroli.

Dilihat secara kasat mata, pemulung adalah pekerjaan yang membuat suasana kotor tidak keruan, tapi itu duitnya menjanjikan. Banyak orang bisa kaya karena berprofesi sebagai pemulung. Bahkan di Malang Jawa Timur, seorang anggota polisi bernama Bripka Saladi (50) sepulang berdinas sambennya jadi pemulung. Prinsipnya mungkin, biarlah yang di atas pada punya rekening gendut, saya tetap pilih jadi pemungut!

Bung Karno dulu pernah bilang, kita harus berani ber-viveri-vericoloso alias nyerempet-nyerempet bahaya. Pemulung sekarang, secara tak langsung telah “mengamal”-kan ajaran Pemimpin Besar Revolusi tersebut. Bagaimana tidak? Dalam berburu barang rongsokan di gang-gang perkampungan, dia tak hanya mengais-ngais di bak sampah. Ada besi tampak nganggur di depan rumah orang, langsung disikatnya. Banyak juga yang melihat barang bagus di siang hari, baru nanti malam dikerjai. Lihat saha, di mana-mana banyak besi gril penutup saluran hilang karena dicolong pemulung.

Bukankah itu perbuatan yang sangat menyerempet bahaya? Soalnya, bila ketahuan pemilik rumah, bisa benjol-benjol itu kepala. Seringkali terjadi pemulung digebuki orang karena mencuri di wilayah “di larang masuk kecuali yang berkepentingan”. Maka tak mengherankan pula, di pelosok Ibukota ini di mana-mana ada “rambu-rambu” bertuliskan: Daerah Bebas Pemulung. (Cantrik Metaram)

Advertisement