Puisi Kematian dari Palangkaraya

1001 Nafas Kematian

Nafas kami … tak lagi bersih
Tak pula terpuruk
Tapi terburuk dalam sejarah kami
menuju Kota mati

Kota Kami .. Tak lagi indah
Tak pula hidup
Tapi menuju mati dalam hitungan hari
Menuju REKOR MURI

Provinsi kami.. tak lagi dipandang
Tak pula mampu menyandang
Tapi sudah dalam ambang batas kenangan
Menuju hilangnya dari daftar satu kesatuan RI

Debay dan Lansia tidak lagi prioritas yang diselamatkan
Semua berjibaku hilangkan kesengsaraan
Tapi apa daya pemimpin butakan bahkan beritakan kepalsuan
Bukti bahwa kami menuju kematian

Katanya menunggu bantuan Tuhan…
Lupakan bawha tangan kalian perantara Tuhan…
Pemimpin, kepadamu kami mengemis bantuan

1001 nafas terhenti tak dihiraukan
Mampirlah kesini wahai kawan
Sejenak liburan dan rekreasi bersama
Rasakan nafas kami
NAFAS KEMATIAN

Begitulah lirik puisi yang dibacakan seorang anak muda di dalam Sidang Rakyat di Bundaran Besar Palangkaraya, 21 Oktober 2015 lalu. Pengamatan KBK, saat itu ratusan orang berkumpul, mereka berasal dari elemen pemuda, tokoh adat dan mahasiswa. Mereka menggelar orasi, mengumpulkan koin untuk Jokowi, mengumpulkan tandatangan aspirasi warga di atas kain putih.

Sidang itu, menggugat pemerintah pusat dan daerah. Mereka menganggap Jokowi dan kabinetnya tidak berbuat adil terhadap Kalimantan Tengah, sudah 3 bulan dikurung asap, tapi tidak memberikan bantuan yang berarti. Mereka juga hanya melihat Pemerintah propinsi hanya menebar spanduk hentikan pembakaran dan lakukan pemadaman api saja, tapi upaya yang dilakukan tidak maksimal.

“Warga tidak dapat bernapas normal, karena polutan sudah sangat tebal mencemari udara. Tidak ada upaya penyelamatan bagi warga yang rentan, seperti bayi dan manula yang lemah, harus bagaimana, ” teriak pembicara.

Mereka pun mengumpulkan Koin, agar Presiden Jokowi bisa menyewakan pesawat untuk digunakan memadamkan api di Kalimantan Tengah. Ini adalah simbol dari kekecewaan mereka.

“Kami menyaksikan di televisi, Riau, Jambi dan Sumsel mendapat bantuan, dari berbagai pihak, bahkan dari luar negeri mengirimkan pesawat untuk memadamkan api, kenapa ke Kalimantan Tengah tidak ada pesawat yang memadamkan api, ” kata seorang tokoh adat menyampaikan orasi.

“Jokowi ke Kalimantan, tapi tidak sampai ke Palangkaraya, hanya sampai Kabupaten Pulang Pisau, kami yang dikurung asap malah tidak dilihat,” tambah orator.

Tokoh adat Palangkaraya ini juga mempertanyakan apa yang dikerjakan oleh Pemerintah daerah, yang membiarkan situasi ini berlarut –larut.

melawan-asap-1 melawan-asap-2 melawan-asap-3 melawan-asap-4 melawan-asap-5 melawan-asap-6 melawan-asap-7 melawan-asap-8 melawan-asap-9

Advertisement