SELAMA ini pengangguran hanya mengancam dunia “angkatan darat”. Ternyata dunia “angkatan udara” juga mulai terancam, khususnya untuk keperluan angkutan udara. Menteri Perhubungan Budikarya Sumadi beberapa hari lalu bilang, kini terdapat 900 pilot menganggur akibat tidak lulus test. Kasihan juga mereka, sudah keluar biaya mahal-mahal untuk menjadi penerbang, ternyata jadi panji klantung (pengangguran) juga pada akhirnya.
Sama-sama sopir, pilot merupakan profesi paling bergengsi setelah astronout. Astrounut sopir pesawat ke ruang angkasa luar, sedangkan pilot merupakan sopir untuk pesawat terbang biasa yang berharga ratusan miliar. Karenanya pilot gede penghormatannya dan gede pula penghasilannya. Tapi ketika zaman terus berkemajuan, bisa saja di abad 22 atau 25, pilot menjadi profesi biasa dan bergaji murah, karena makin buaaanyaknya pesawat penerbangan komersil di seluruh dunia di masa itu.
Sekarang saja bila dilihat di “radar flight” di internet, pesawat terbang di seluruh dunia sudah seperti ikan, bersliweran tanpa henti selama 24 jam. Di Indonesia misalnya, pesawat komersil semakin banyak dengan tarif yang murah meriah. Maka ketika ekonomi rakyat semakin meningkat, bisa saja di tahun 2050 pesawat terbang sudah seperti angkot Ragunan – Manggarai sebagaimana di Jakarta. Nantinya prosedur penerbangan semakin sederhana. Pramugari turun pesawat untuk mengejar-ngejar calon penumpang dan menarik-narik kopernya sambil merayu, “Yogya Mas, Yogya Mas, penerbangan terakhir. Kurang satu, siap berangkat….!”
Meski naik pesawat berjarak pendek kini tanpa makanan, tapi pihak maskapai menarik minat penumpang dengan cara lain. Tak sekedar pramugari cantik nan ramah, tapi juga memberi kesempatan penumpang lelaki bercuci mata. Lion Air misalnya, sengaja mengemas busana sang pramugari dengan rok terbelah di samping kiri. Ketika mereka melangkah, otomatis pahanya yang putih mulus itu akan nampak nyata. Baik mata lelaki normal maupun paranormal, pasti akan bikin jantungnya serrrr-serrran membayangkan yang mboten-mboten.
Seleksi untuk pramugari memang tak seketat pilot. Pramugari asal cantik, postur tubuh memenuhi syarat dan berkemampuan bahasa Inggris, bisa diterima. Beda dengan pilot, dia harus melalui sekolah khusus yang mirip-mirip kursus. Dengan biaya Rp 1 miliar, setahun kemudian sudah punya ijazah pilot. Masih ada pendidikan lanjutan. Dan di sini pula yang kemudian terjadi, gagal test penerbangan komersil karena ketrampilannya tidak memadai.
Pilot yang gagal test itu terpaksa harus menjadi pipi alot (tebal muka) karena jadi panji klantung. Dia tak lagi menjadi kebanggaan keluarga dan calon mertua. Paling banter yang bisa dipakai, memiliki pulpen merk Pilot yang di tahun 1960-an masih sangat bergengsi di samping Parker dan Ero. Di tahun itu, pernah terjadi pulpen Pilot sukses dijadikan senjata merayu gadis kembang desa di daerah Purworejo. Padahal meski sudah pakai pulpen Pilot, sigadis tulisannya masih cekeremes (jelek) kayak tulisan resep dokter.
Meski terdapat 900 pilot nganggur seperti kata Menhub Budikarya Sumadi, jangan pesimis. Menurut pengamat penerbangan, hingga tahun 2015 nanti Indonesia masih membutuhkan 800-an pilot setahun. Lihat saja sekarang, banyak penerbangan delay akibat kekurangan pilot di berbagai maskapai penerbangan.
Maka paling mudah memang jadi penerbang dalam arti main rebana dan ketimpring. Di majlis-majlis taklim kampung, banyak kegiatan kesenian semacam itu. Tapi paling bahagia adalah penerbang yang berhasil menikahi pramugari. Ketika hendak menjalankan “sunah rosul” cukup pakai bahasa isyarat, “Ma pesawat mau mendarat, landasan siap belum?” Maka istri pun menjawab, “Siap Pa, tapi tolong roda dikeluarkan dulu….!” (Cantrik Metaram).





