Pesawat Pengebom Air, Siapa Mau Beli?

Pemboman air. Foto:Ist

Sejumlah negara ikut membantu pemadaman kawasan hutan yang mengakibatkan musibah kabut asap yang melanda hampir duapertiga kawasan  negeri ini dengan mengirimkan pesawat-pesawat pengebom air (water bomber).

Bantuan mereka tentunya diberikan dengan tulus, walaupun belum mampu mematikan seluruh titik-titik panas (hot spot) yang tersebar di berbagai wilayah,  apalagi sebagian berada di balik lapisan lahan gambut .

Malaysia dan Singapura misalnya mengulurkan  bantuan dilandaskan atas solidaritas ASEAN dan kebersamaan sesama jiran, begitu pula Australia, tetangga di “halaman belakang” Indonesia, dengan semangat ketetanggaannya, sedangkan Rusia, negeri nun jauh disana, datang dengan semangat persahabatan kedua bangsa dan negara yang sudah terjalin sejak lama.

Di sisi lain, aksi pesawat-pesawat pengebom air tersebut secara tidak disadari ikut menaikkan pamor negara-negara pemiliknya,  karena mencerminkan kemampuan teknologi  yang mereka miliki, juga kesiapan mereka menghadapi kemungkinan bencana, sedangkan bagi industri, tampilan pesawat-pesawat mereka  merupakan promosi gratis.

Bagi jenis pesawat tempur, ada istilah “combat proven” atau keunggulan yang sudah teruji dalam pertempuran udara (dog fight) sebenarnya.

Keandalan pesawat-pesawat F-86 Sabre AS pada palagan Korea di era “50-an” atau keberhasilan  pesawat-pesawat F-l6 Fighting Falcon AU  Israel – juga buatan AS – merontokkan puluhan pesawat musuh tanpa kehilangan satu pesawatpun di atas Lembah Bekaa, Suriah pada 9 Juni l982, ikut mengatrol penjualannya.

Kisah keunggulan pesawat terbang, tidak hanya ditunjukkan oleh jenis pesawat tempur. Keandalan pesawat angkut C-47 Dakota pada Perang Dunia II yang dijuluki “keledai udara” juga melegenda. Ribuan pesawat ini diproduksi dan dioperasikan puluhan negara di dunia.

Beriev B-200 Altair (Rusia)

Beriev B-200 Altair (Rusia)Pesawat amfibi serbaguna bersayap tinggi ini dirancang oleh Beriev Aircraft,  kemudian diproduksi oleh perusahaan Irkut, Rusia.  Berkecepatan maksimun 720 Km/per jam dan daya angkut 72 penumpang, pesawat dengan dua awak ini diproduksi dalam berbagai varian termasuk untuk pemadam kebakaran hutan, penyelamatan,  angkut penumpang dan kargo serta patroli maritim.

B-200 yang panjangnya 32 meter dan bentangan sayap 32,8 meter dibandrol dengan harga sekitar Rp500 milyar.  Pesawat yang digunakan sebagai pengebom air ini, mampu menyiduk 12 ton air   langsung dari sumbernya (danau, sungai atau laut dengan gelombang sampai setinggi dua meter) sambil terbang. Di luar Rusia, baru Azerbaijan yang mengoperasikan Beriev B-200.

Pelikan MP415  (Malaysia)

Pelikan MP415 (Malaysia)Pesawat buatan Bombardier Aerospace, Kanada ini juga dibuat dalam beberapa  varian seperti untuk pengangkut penumpang atau kargo, membersihkan polusi minyak di permukaan air dan sebagai pengebom air pada kebakaran hutan.

Dengan panjang 19,82 meter, lebar bentangan sayap 28,6 meter dan kecepatan 359 Km per jam,  Pelikan MP415 yang berjenis amfibi, mampu mengangkut dan menyiduk 6,1 ton air dari permukaan laut, sungai  atau danau. Pesawat yang diperkenalkan pada akhir 1993 ini ditawarkan dengan harga sekitar 35 juta dolar Kanada setiap unitnya (sekitar Rp532 milyar).

Chinook CH-47

Chinook CH-47Pesawat helikopter (rotary wing) dengan dua baling-baling ganda buatan Boeing AS ini digunakan antara lain untuk mengangkut kargo, pasukan, artileri, bahkan tank ringan, dan jika dilengkapi “bucket”, bisa  mengangkut air yang bisa digunakan untuk menyiram lahan atau hutan yang terbakar.

Dalam perang Vietnam, Chinook yang mampu melaju dalam kecepatan 315 km per jam, berfungsi sebagai kavaleri udara dan sangat diandalkan pasukan AS. Dengan harga 30 juta dolar AS (Rp400 milyar), pesawat ini digunakan oleh sekitar 25 negara termasuk Singapura, selain AS.

L100 (Australia)

L100 (Australia)Jenis pesawat ini yang merupakan saudara kembar pesawat Hercules C-130 buatan Lokheed, AS mulai diperkenalkan pada 1965 dalam berbagai varian seperti pengangkut kargo dan penumpang, evakuasi medis, patroli maritim, pengisian bahan bakar di udara (air refueling) dan pemadam kebakaran, bahkan juga bisa digunakan sebagai pesawat meriam (gunship)

Di luar AS, pengguna lainnya Arab Saudi, Aljeria, Filipina dan Peru selain Indonesia (untuk varian pengangkut penumpang). Tidak diketahui harga satuannya,  namun saudara kembarnya, Hercules yang diproduksi dalam berbagai varian, dihargai sekitar 30 juta dolar AS (sekitar Rp400 milyar).

Ada juga jenis pesawat serba guna lain yang berkualifikasi amfibi untuk digunakan sebagai pemadam kebakaran hutan seperti JL-600 buatan Tiongkok dan Shin Maywa US-2 bikinan Jepang. Namun kedua jenis pesawat ini belum dikenal secara luas.

Sangat disayangkan memang, Indonesia dengan luas hutan sekitar 120 juta HA termasuk 23 juta HA lahan gambut atau terluas kedua di dunia setelah Brazil  belum memiliki satupun pesawat pengebom air, padahal lahan tersebut sangat rawan kebakaran, terutama akibat ulah manusia.

Bangsa Indonesia semestinya malu dan iri dengan Singapura yang luasnya hanya 700 Km persegi, dan tidak berhutan, memiliki helikopter Chinook yang sewaktu-waktu dapat dioperasikan memadamkan api akibat  kebakaran hutan.

Advertisement