Ancaman Sesar lembang Aktif, Warga Bandung Utara Diminta Tenang

Ilustrasi gempa

BANDUNG – Warga Bandung Utara diminta tepat tenang namun harus waspada mengenai ancaman potensi gempa akibat aktifnya Sesar Lembang.

Meminta warga tenang, Bupati Bandung Barat Abubakar mengatakan, bukan berarti pemerintah daerah tidak peduli,  “Bukan berarti kami tidak peduli dengan ancaman Sesar Lembang. Namun, harus tetap tenang dan waspada karena bencana bisa datang tanpa diduga,” katanya di Lembang, seperti dilansir PR, Rabu (14/12/2016) malam.

Abubakar mengungkapkan, masyarakat Kabupaten Bandung Barat khususnya di kawasan Bandung utara sering merasa resah ketika muncul berita mengenai Sesar Lembang yang memicu gempa. Apalagi, wilayah Lembang berada di daerah perbukitan yang rawan bencana alam.

Isu aktifnya Sesar Lembang sempat mencuat pada 2011 seusai terjadi gempa di Kampung Muril Rahayu, Desa Jambudipa, Kecamatan CIsarua. Meski hanya berkekuatan 3,3 pada skala Richter, gempa itu menyebabkan sedikitnya 384 rumah warga rusak ringan hingga berat. Dalam waktu beberapa minggu, gempa-gempa kecil terus terjadi sehingga membuat warga panik dan sempat mengalami trauma untuk tinggal di dalam bangunan.

Para ahli geologi di Bandung memastikan bahwa gempa tersebut berpusat di ujung Patahan Lembang sebelah barat, yakni di Desa Jambudipa, Cisarua. Permukiman warga di Kampung Muril Rahayu tepat berada di tebing patahan sehingga paling banyak terkena dampak gempa. Gempa itu memperkuat bukti bahwa patahan sepanjang lebih dari 22 kilometer itu merupakan sesar aktif yang sebelumnya masih diperdebatkan.

Untuk melakukan mitigasi bencana terhadap ancaman Sesar Lembang, menurut Abubakar, pemerintah daerah melakukan berbagai upaya preventif. Di antaranya, dengan membentuk Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana.

“Tujuan dan harapannya, meminimalisasi jatuhnya korban jiwa ketika terjadi bencana dengan pergerakan cepat dari semua unsur yang terlibat,” katanya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah KBB, Dicky Maulana menjelaskan bahwa TRC BPBD KBB merupakan sebuah tim yang dibentuk untuk melaksanakan kaji cepat bencana dan dampak bencana pada saat tanggap darurat. Tim itu bertugas menilai kebutuhan, kerusakkan dan kerugian serta memberikan dukungan pendampingan dalam penanganan darurat bencana.

“Termasuk untuk menentukan jumlah dan jenis bantuan yang diperlukan dalam upaya penyelamatan korban bencana meliputi SAR, bantuan medis, penyediaan pangan, penyiapan penampungan sementara, penyediaan air bersih dan sanitasi,” katanya.

Advertisement