Peringati Hari Ibu 22 Desember

ilustrasi: kasih sayang ibu.

HARI ini bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu yang ke-57. Mengapa pada angka ke-57,  karena peringatan Hari Ibu sebetulnya bertolak dari keputusan Presiden Sukarno No. 316 tahun 1959, berbarengan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Hari Ibu dicanangkan oleh Bung Karno, sebagai bentuk penghormatan negara atas perjuangan kaum ibu menyelenggarakan Kongres Perempuan di Yogyakarta, 22 Desember 1928. Dari situlah kaum wanita telah meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, untuk Indonesia tercinta.

Tapi kini arti Hari Ibu telah banyak berubah. Hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya. Hari itu, kaum bapak “memanjakan” kepada kaum ibu, yang notabene juga para istri mereka. Bagi yang bersedia, para suami boleh “mengkudeta” tugas kaum ibu di rumah, dari yang ngepel lantai sampai menyapu halaman.

Ada Hari Ibu, mengapa tidak ada Hari Bapak? Bukankah ini sebuah diskriminasi gender? Soal gender –yang bukan bermakna jenis kelamin– sih, itu milik orang Jawa. Yang bergabung di komunitas karawitan, mereka pandai memainkan, dari gender, slenthem, saron sampai demung. Tidak ada Hari Bapak, orang Jawa juga sudah punya tembang tebakan: Bapak pucung, dudu watu dudu gunung, sangkane ing sabrang…………. dan seterusnya.

Kaum ibu memang punya kedudukan istimewa dalam keluarga. Dalam Islam, banyak hadits yang menyatakan betapa besar peran ibu untuk keluarga. Mereka tak sekedar melahirkan, tapi juga membesarkan dan mendidik anak-anak itu menjadi generasi yang berguna bagi nusa bangsa, agamanya.

Misalnya, “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Abu Hurairah). Ada juga: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk saya pergauli dengan baik” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Baru beliau menjawab, “Bapakmu” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud).

Orang Jawa punya kepercayaan, sawab (doa) sang ibu sangat berpengaruh bagi keberhasilan anak. Maka di masa lalu banyak juga manusia Jawa yang hendak merantau, sang ibu melepaskannya dengan cara melangkahi si anak yang tiduran di depan pintu. Bahkan pemusik Ahmad Dhani, setiap hari ulangtahunnya merelakan minum air bekas cucian kaki ibu. Paling lucu di Jambi, saat menghadapi Unas 2012 murid SMP di kota itu ramai-ramai bikin ritual mencuci kaki ibu masing-masing.

Ironisnya, meski begitu besar peran ibu, banyak juga manusia durhaka yang sengaja melupakan ibu sendiri, misalnya si Malin Kundang dari Sumatera Barat, atau si Kantan dari Jawa. Bahkan Sangkuriang dari Jawa Barat, malah hendak mengawini ibu sendiri, Danyang Sumbi. Ini semua memang dongeng belaka, tapi yang terjadi di era gombalisasi sekarang ini, anak membunuh ibu kandung sering terjadi. Padahal Allah telah mengingatkan, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.  (Surat Al Isra: 23-24).

Banyak pula lagu-lagu lama untuk memuliakan ibu. Ada Ibunda sayang (Retno), Oh ibuku (Titik Sandhora), Mama (Anita Taurisia), Kasih Ibu (S. Warno), Kasih Ibu (Tetty Kadi), sampai lagu untuk anak-anak Kasih Ibu (SM. Muchtar). Tapi paling celaka, di era gombalisasi ini banyak yang percaya pada ramalan Mama Laurent, bahkan paling jahat, berani tipu-tipu dengan dalih: mama minta pulsa. (Cantrik Mataram)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement