NEW YORK – Puluhan peraih hadiah Nobel, termasuk Uskup Desmod Tutu dan Malala Yousafzai, Kamis (29/12/2016) waktu AS mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk menghentikan “pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan” di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.
Sudah 86 orang tewas dalam tindakan militer di Rakhine, yang dilancarkan setelah serangan ke kantor-kantor polisi di dekat perbatasan dengan Bangladesh sejak 9 Oktober.
Lebih dari 30.000 orang mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan. Peristiwa itu mengundang kritik dunia bahwa pemerintahan Aung San Suu Kyi tidak berbuat banyak untuk membantu para warga Rohingya yang tidak diberi kewarganegaraan di Myanmar.
Dalam surat terbuka kepada Dewan Keamanan, Desmond Tutu dan 22 sosok terkemuka lainnya, termasuk peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos Horta dan Muhammad Yunus, mengatakan “tragedi kemanusiaan yang menjadi pembersihan etnis serta kejahatan terhadap kemanusiaan sedang terjadi di Myanmar”.
“Jika kita tidak mengambil tindakan, orang-orang bisa mati kelaparan kalau tidak mati terbunuh peluru,” demikian bunyi surat itu.
Surat itu memperingatkan bahwa kekerasan seperti itu pernah terjadi saat pembersihan etnis di Rwanda pada 1994 serta di Darfur-Sudan barat, Bosnia dan Kosovo.
Disitat dari Antara, para penandatangan surat mengatakan bahkan jika sekelompok etnis Rohingya berada di balik serangan 9 Oktober, tindakan yang dilancarkan militer Myanmar “sangat tidak seimbang”.





