Demi Keluarga Kakek Ini Menolak Umrah

kemiskinan
Abah Udin sedang menunggu pembeli minyak kelapa di Rempoa, Tangsel

JAKARTA – Tangan kanan Abah Udin (75) memegang kelapa tua. Sedangkan tangan kirinya tengah berusaha menggapai pisau daging beukuran besar yang ia letakan di dinding rumah. Setelah keduanya berada di genggaman, Abah Udin lalu mencacah kelapa tersebut hingga menjadi potongan dadu dan membelendernya sampai halus.

Proses pembuatan minyak kelapa tersebut kurang lebih akan memakan waktu seharian, sebab ada beberapa bagian dimana bahan mesti diendapkan selama 24 jam. Bagi Abah Udin memproduksi minyak kelapa merupakan rutinitas sehari-hari.

“Kalau tidak buat minyak kelapa nanti saya tidak bisa punya uang. Ini kerjaan saya dari dulu,” ungkap Herdini Ketua Share if You Care Region Jabodetabek yang pernah bertemu Abah Udin.

Kepada KBK Herdini mengungkapkan, meski minyak kelapa produksi Abah Udin tak selaris minyak yang beredar di Minimarket namun semangat Abah Udin untuk terus memproduksi minyak kelapa tak pernah berhenti. Setelah minyak kelapanya selesai dibuat, Abah Udin lantas menjejerkannya di depan sebuah toko di bilangan Rempoa, Tangsel dengan harapan ada yang membeli hasil karyanya.

Satu botol minyak kelapa produksi Abah Udin dibandrol seharga Rp 25 ribu. Ketika Herdini menyambangi Abah Udin, ia mengaku salut dengan cara pandang hidup si Abah. Pasalnya ia menolak untuk diberangkatkan umrah dengan alasan yang sungguh diluar dugaan bagi kebanyakan orang.

“Ketika itu saya ingin membantu Abah dengan menawarkan dua pilihan. Abah mau umrah atau mesin parutan kelapa,” tanya Herdini kepada Abah Udin.

“Saya pilih mesin parutan kelapa saja, karena kalau umrah berarti saya termasuk manusia yang egois karena umrah hanya untuk diri saya sendiri. Sedangkan kalau mesin parutan kelapa dapat digunakan oleh anak cucu saya,” jawab Abah Udin dengan tegas.

Advertisement