Beda Perlakuan Rumah Sakit Indonesia dengan Malaysia

Pria muda itu tak mampu berdiri sempurna. Sebut saja namanya Harahap, 33 tahun, ia selalu berbaring di ruang kelas 3 di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur, dengan kaki kanan dibalut gift semen dan tangan kanan dibalut perban. Di tangan kiri, kaki kiri dan wajah terlihat bekas luka goresan.

Ia hanya bercelana pendek hitam dan tidak berbaju. Bajunya yang sobek, malah sering dijadikan penutup muka, terutama giginya yang ompong. Kayaknya ia malu, apabila giginya yang ompong itu jelas terlihat ketika ia berbicara atau tertawa.

Kakinya yang disemen itu diganjal dengan sebuah bantal, agar ia tidak bergerak ke sana- kemari. Hanya tangan kiri dan kaki kirinya yang berfungsi normal, yang sering digerak-gerakan. Tapi terkadang ia meringis juga karena ada yang ngilu ketika digerakkan.

“Saya sudah hampir 14 hari ini di sini,” ujar pria ini memulai kisahnya kepada KBK yang mendengar ceritanya dengan saksama.

Sebelumnya, ia mengadu nasib di Malaysia. Ia datang ke Malaysia 10 tahun yang lalu. Awal ia masuk ka tanah melayu itu sebagai pendatang legal dengan paspor wisata. Namun ketika masa waktu habis, ia tidak memperpanjangnya.

Ia memilih membangun mimpi di Malaysia dengan berkerja dari proyek ke proyek bangunan di sana, ketimbang pulang ke Indonesia ke tanah airnya untuk memperpanjang izin tinggal atau mengurus visa kerja secara legal.

Itu tidak dilakukannya karena alasan biaya. Menurutnya, jika ia mengurus secara legal ia akan menguras uang banyak untuk segala sesuatunya. Sehingga ia mengurungkan niatnya mengurus legalitas tinggal di Malaysia. Sejak saat itu pulalah ia melakukan kucing-kucingan dengan petugas.

Menjadi pendatang haram di Malaysia, begitu istilah bagi pendatang yang tidak dilengkapi surat-surat resmi dipanggil di Malaysia, ternyata memang tidak enak.

“Harus pandai menjaga-jaga diri agar tak tercium Polis Malaysia,” katanya.

Selain itu, lanjut Harahap, ia harus jadi bulan-bulanan  para cukong yang memberikan kerjaan. Jumlah gajinya ditekan serta sering dilakukan pemotongan seenaknya , hal itu kerapkali dirasakannya.

Tidak hanya dari para cukong, para pekerja pun melakukan tindakan yang sama. “Jika ia tahu kita pekerja ilegal, mereka yang bekerja sebagai pekerja legal, kalau nggak suka sama kita. Ia pancing kita untuk marah dan terkadang melakukan politik busuk dengan cara menfitnah,” kisah Harahap.

“Nah jika kita terpancing kita akan menanggung akibatnya, kita bisa dideportasi kapan saja, atau yang paling ngga enak di penjara di sana,” tambahnya.

Tapi sepandai-pandai ia menjaga, akhir ia ketahuan juga. Naas, bagi Harahap, ia ditabrak pengemudi yang ugal-ugalan. Akhirnya ia harus berurusan dengan Polis Diraja Malaysia. Ia dibawa ke rumah sakit di kota itu untuk di rawat. Di sinilah ia dihadapkan pada hukum, ketika ia ditanya identitasnya.

Namun, Polis Malaysia mendahulukan pertolongan kemanusiaan dulu baru proses hukum. Ia dirawat dulu di rumah sakit tersebut, sementara pihak Polis menghubungi kedutaan Indonesia.

Nah, disini ia menjadi tidak enak hati. Sebagai pendatang ilegal, ternyata ia tidak diperlakukan secara diskriminastif. Di rumah sakit, ia dirawat dengan pelayanan prima.

Meskipun ia tidak punya keluarga yang mendampingi, ia tidak merasa kesepian. Perawat yang ramah, muda-muda dan telaten.

Dengan kondisi cedera yang ia derita, tidak memungkinkan ia ke kamar mandi untuk mandi, ke toilet untuk BAB dan BAK. Tapi semua itu dikerjakan di tempat tidur.

Pagi-pagi tubuhnya sudah dilap dan dibersihkan. Untuk persoalan sekotor BAK dan BAB sekalipun, ia dilayani dengan nyaman dan tanpa risih. Tidak ada terdengar keluhan dan kata-kata yang tidak mengenakan dari perawatnya.

“Mohon maaf, mereka benar-benar lemah lembut melayani. Padahal saya pasien pendatang haram,” tuturnya.

Ke dokter yang merawatnya di Malaysia, ia mengatakan tidak mau pulang. Dia ingin dirawat sampai sembuh di rumah sakit tersebut.

“Saking nyamannya saya di hospital tersebut, benar, saya tidak mau dipulangkan,” tutur Harahap.

Akan tetapi tidaklah bisa demikian. Sebagai orang yang terlibat kasus pendatang haram, ia tidak punya pilihan. Dia hanya dihadapkan pada 2 pilihan, dipenjara atau dipulangkan. Pilihan pertama tidaklah mengenakan baginya.

Ternyata pihak Polis Malaysia sudah menghubungi kedutaan, BNP2TKI pun meluncur untuk mengambil Harahap dari rumah sakit dan kemudian membawanya pulang ke tanah air. Tak satupun yang bisa ia bawa dari sana kecuali pakaian yang ada di badan.

“Bahkan untuk mengambil barang-barang yang di rumah sewaanya sekedar penganti pakaian, ia tidak diberi kesempatan, ia harus berpacu dengan waktu. Jika tidak dideportasi segera, ia harus masuk bui,” jelasnya.

Singkat cerita, sampailah ia di tanah air. Ia dirawat di sebuah Rumah Sakit di Jakarta Timur. Di sini pula KBK bertemu dengannya dan menyimak kisah-kisahnya.

Suatu hal yang sangat berbeda yang ia rasakan ketika ia dirawat di hospital di Malaysia dan di rumah sakit di Indonesia adalah pelayanannya.

Dia minta maaf, bukan menjelek-jelekan pelayanan di negeri tercintanya ini. Tapi ia beberkan faktanya ini, agar orang yang sakit masuk rumah sakit benar-benar sembuh lahir batin.

“Bukan malah menambah penyakit baru, bahkan jangan sampai keluarga yang sehat datang ke rumah sakit yang tadinya sehat, jadi ikutan sakit karena mendampingi yang sakit,” tuturnya.

Bedanya perawatan rumah sakit di Malaysia dan rumah sakit di Indonesia, katanya. Kalau di sana ia tidak tahu ditaruh di kelas mana, apakah VIP atau kelas 3. Tapi pelayanannya tetap terasa prima.

Di sini, ia ditaruh di kelas 3, dengan tempat 8 tempat tidur di satu sekat partisi. Dan terkesan ramai sekali, ketika di jam besuk; luar biasa ramainya. Bisa satu pasien ditengok orang sekampung.

Di  Malaysia, tidak bisa demikian. Disiplin sangat tinggi dan kesadaran pengunjung juga sangat tinggi. Kalau dibolehkan hanya 5 orang dan beberapa menit maksimal dalam satu kali kunjungan semuanya patuh.

“Jadi pengunjung tetap menjaga kenyamanan orang lain yang sedang dirawat. Dan hal itu tidak membuat sedih orang yang dirawat sendiri tanpa ada keluarga yang menjenguk, contohnya seperti saya sebagai seorang pendatang,” ungkapnya.

Pelayanan terhadap pasien apalagi, di sana perawatnya muda-muda, tidak terlihat tua-tua yang melayani. “Mereka yang sudah berumur tinggal mengawasi yang muda saja,” tuturnya.

Sangat berbeda dengan di rumah sakit di sini perawat yang tua terkadang masih diaktifkan merawat. Kesenioran mereka sangat terlihat sekali; mereka menjadi kurang gesit, agak enggan memberikan pelayanan prima dan cenderung jutek pada pasien atau merendahkan.

“Mungkin karena kelamaan menjadi pelayan pasien, jadi agak ada penurunan kualitas atau pekerjaan sudah menjadi membosankan karena yang dihadapi setiap hari begitu-begitu terus,” penilaian Harahap.

Tapi diakui Harahap, tidak semua perawat tua begitu, tapi yang ia lihat selama dirawat di RS cenderung melihatkan situasi seperti itu. Ada juga perawat tua yang masih gesit. “Tapi segesit-gesitnya, faktor umur tidak bisa dibohongi,”katanya.

Sayangnya, Harahap tidak merinci berapa umur yang disebutnya tua. Dia hanya menilai dari kasat mata saja.

Nah, yang paling dikeluhkan Harahap lainnya adalah soal hygienitas para perawat. Setiap pagi para perawat melakukan tensi pasien. Kalau l di Malaysia, setiap perawat sebelum menyentuh pasien, ia cuci tangan dengan hand sanitizer dan pakai handscoon atau sarung tangan karet, setelah itu baru menyentuh pasien untuk cek tensi.

Setelah itu, sarung tangan dibuang dan cuci tangan lagi dengan handsanitiser, terus pakai handscoon lagi dan baru pegang pasien baru.

“Jadi di sana satu pasien satu handscoon, ” tuturnya.

Nah, di rumah sakit ini, kata Harahap, tidak demikian, perawatnya pakai handscoon tapi tidak diganti-ganti.

“Setelah pegang pasien ini terus ke pasien lain dan begitu sebangsalnya. Jadi kalau ada kuman yang ada penyakit menular melalui keringat maka akan ditularkan pastinya ke pasien lain. Jadi pasien bisa jadi sakit A, karena tersentuh pakai sarung tangan yang sudah membawa penyakit dari pasien lain, berkemungkinan ia akan tertular penyakit B,” kisah Harahap.

Karena itu pulalah Harahap menolak setiap dia mau diperiksa tensinya oleh perawat yang tidak mengganti sarung tangan. Ia hanya berjaga-jaga jangan tertular penyakit baru, karena sebagian besar tubuhnya ada bekas luka yang masih dalam pemulihan.

Hal lain yang menjadi sorotan Harahap adalah ketika di pagi hari atau di sore hari. Dirawat di ruang kelas 3 yang panas, ia selalu berkeringat. Kalau bangun tidur ia berharap mandi, begitu juga di sore hari.

Sayangnya ia hanya sendiri di RS ini, tidak ada keluarga, karena BNP2TKI menitipkan perawatannya di sini. Jadi otomatis ia tidak ada yang membantu memandikan, sementara ia tak berdaya dan harus terpaku di tempat tidur karena cederanya.

Selama di rumah sakit Malaysia dia dilap oleh perawat, walau ia sebagai pendatang haram. Tapi di negaranya sendiri ia tidak dapat pelayanan seperti itu.

“Di sini saya hanya dibantu cleaning service, dikasih 2 baskom air. Untuk mengelap badan, dilakukan sendiri semampu saya. Meski badan masih terasa ngilu, tapi harus dikerjakan sendiri kalau tidak, ngga bisa tidur atau tidak nyaman karena bau keringat,” ujarnya.

Itulah yang disesalkan Harahap, kenapa dia harus dibawa ke Jakarta, padahal kampungnya di Medan. Kalau dirawat di RS Medan, tentu keluarganya bisa membantu ia, jika perawat enggan melakukan.

Tapi apa yang hendak dikata, dia hanya bisa mengikut saja apa aturannya. Karena dia tidak punya apa-apa, dalam kondisi cedera dan semuanya tanggungjawab BNP2TKI.

Setelah 14 hari dirawat di RS,  ia dibawa BNP2TKI untuk dipulangkan ke Medan, ke kampung halaman. Sore hari, 2 Nopember 2015, dengan perasaan senang, Harahap dibawa petugas BNP2TKI untuk dipulangkan ke Medan.

Perasaan senang karena ingin bertemu keluarga, membuat ia lupa seluruh pelayanan yang tidak menyenangkan menurutnya itu. Dengan penuh senyum ia menaiki kursi roda yang dibawa petugas untuk membawanya pergi.

Karena ia tak punya baju ketika dibawa petugas BNP2TKI, keluarga pasien sebelahnya prihatin dan memberinya sehelai baju batik sebagai kenangan. Selamat kembali ke keluarga Harahap, semoga mendapat pelayanan yang menyenangkan, penuh cinta dan membahagiakan.

Advertisement