Tim Investigasi Kemenhub Temukan Fakta Mencengangkan di STIP Jakarta

ilustrasi.ist

JAKARTA-Kementrian Perhubungan (Kemenhub) melakukan investigasi untuk mengungkap kasus meninggalnya Amirullah Adityas Putra , seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Temuan tim investigasi mengejutkan, lantaran terdapat galian 3 meter di wilayah kampus. Diduga kuat, galian tersebut digunakan untuk melintasi ke barak taruna tingkat II.

Kepala BPSDMP Kemenhub Wahju Satrio Utomo menyampaikan, dari hasil investigasi terungkap bawah para taruna tingkat satu ini melewati jalur-jalur ilegal sebelum sampai ke barak taruna tingkat II. Mereka melewati jalur tikus dan mendekati pagar pembatas antar asrama.

”Dia melewati pagar yang digali di bawahnya. Ada galian 3 meter,” ujarnya usai pengarahan pada pengelola sekolah, dosen dan taruna di sekolah Perhubungan di Jakarta, seperti dilansir JPNN, Sabtu (14/1).

Berhasil melewati pagar pembatas, Alm Amirullah Adityas Putra dan lima rekannya langsung menuju ke kamar 205.

Dan kemudian, di situlah terjadi pemukulan terhadap enam taruna tingkat I yang dilakukan oleh 4 taruna tingkat II.

Proses hukum aksi kekerasan berujung maut ini telah diserahkan sepenuhnya pada pihak berwajib. Kemenhub akan mendukung penuh bila pihak kepolisian memerlukan keterangan dan alat bukti.

Di samping itu, pihaknya melalui sidang dewan kehormatan taruna telah memutuskan untuk memecat taruna tingkat II yang terbukti melakukan pemukulan.

Selain itu, pihaknya akan menghilangkan penyebutan istilah senior dan junior di dalam sekolah. Istilah diganti dengan sebutan kakak kelas dan adik kelas. Hal itu akan menumbuhkan rasa kebersamaan antartaruna untuk saling melindungi.

Sementara itu, buntut dari aksi kekerasan berujung maut di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menghentikan dua kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan drumband dan pedang pora dihentikan hingga waktu yang tidak ditentukan.

Penghentian ini dilakukan setelah merujuk pada hasil investigasi tim internal Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Terungkap, bahwa dua kegiatan tersebut menjadi pemicu kekerasan yang terjadi pada enam taruna tingkat satu di STIP yang berada di Marunda itu. Bahkan, hingga menewaskan Amirullah Adityas Putra.

”Kami akan menghentikan seluruh kegiatan pelatuhan drumband di STIP sampai iklimnya kondusif,” tegas Budi Karya.

Dia menjelaskan, dari hasil investigasi diperoleh kesimpulan bahwa kedua kegiatan tersebut berpeluang menimbulkan kekerasan di kampus.

Yakni melalui perpeloncoan dari senior pada junior. Kasus STIP sendiri ternyata bermula dari kegiatan ektrakurikuler drumband.

”Para taruna harus rela kegiatan ini dihilangkan. Ini adalah suatu proses dimana kita mengedukasi. Ke depannya, diharapkan bisa memagari dan membentengi para taruna dari perbuatan-perbuatan tersebut,” pungkasnya.

Advertisement