Banjir Bandang Terjang Pemalang, Ribuan Warga Butuh Air Bersih

Ilustrasi

PEMALANG – Banjir bandang melanda  Desa Walangsanga Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah Jumat (3/2/2017) kemarin sore dan menghanyutkan pipa selang air bersih sehingga ribuan warga terdampak krisis air bersih.

“Sejak Kamis (2/2) dini hari hujan terus menerus turun sampai siang hari. Akibatnya air dari limpasan Sungai Ketuon dari lereng Slamet meluap hingga menerjang rumah-rumah warga,” ucap Tarno,salah satu warga,   dilansir Liputan6.com, Sabtu (4/2/2017).

Selain memutus saluran air bersih, banjir bandang bercampur lumpur  juga merusak rumah-rumah dan sebuah jembatan penghubung antar desa setempat ambrol hingga memutus akses jalan utama warga.

Sejak banjir bandang bercampur lumpur menerjang desanya menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas pipa saluran air bersih yang diambil dari mata air di kaki Gunung Slamet.

“Pipa dan selang air yang menjadi andalan warga disini mendapatkan air bersih rusak karena hanyut terbawa banjir bandang lumpur,” dia menambahkan.

Untuk sementara waktu, lantaran tak mendapatkan pasokan air bersih. Warga setempat pun mengandalkan sumur yang ada.

“Sudah seharian ini nggak ada air bersih, warga di sini antre mendapatkan air bersih dari sumur milik warga,” katanya.

Selain itu, banjir bandang lumpur juga merusak puluhan rumah warga dan sebuah jembatan ambrol dan memutus akses utama jalan penghubung antar desa warga.

‎Warga setempat pun dibantu relawan telah bergotongroyong menyelesaikan ‎pembuatan jembatan darurat dari batang kayu pring.

Beruntung, banjir bandang lumpur itu tak sampai menimbulkan korban jiwa ataupun luka-luka. Pasalnya, saat kejadian warga telah bersiaga di kediamannya masing-masing.

Tarno bercerita, sesaat sebelum jembatan yang membentang diatas sungai Ketuan itu ambrol dan terputus. Dirinya sempat melihat ada beberapa warga sedang melintas diatas jembatan tersebut.

“Sebelum jembatan putus, ada lima warga yang ada di atas jembatan. Saya melihat pondasi jembatan sudah rapuh, kemudian saya meminta mereka untuk menyingkir, benar saja setelah itu, jembatan putus,” ungkap dia.

Sementara itu, Kepala Desa Walangsanga, Suroto membenarkan warga di desa itu menggantungkan pasokan air dari sumber mata air di atas desa atau dari lereng Gunung Slamet.

“Kalau di sini rata – rata warga memasang selang dan pipa untuk mendapatkan air bersih. Saat ini, saluran air putus dan warga kekurangan pasokan air bersih,” ucap Suroto.

Penanggulangannya, kata dia, Pemerintah Desa telah mengupayakan bantuan untuk warga desa Walangsanga.

“Kami sudah melaporkan bencana banjir bandang lumpur ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bantuan segera datang untuk membantu warga,” jelasnya.

Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan kepada warga korban banjir bandang seperti, bantuan logistik dan ribuan karung berisi pasir untuk menahan tebing rumah warga yang longsor.

Disisi lain, rumah-rumah warga di Desa Walangsanga memang berada di tebing perbukitan dan sangat rawan longsor.

“Kami akui kalau perkampungan warga di Desa Walangsanga memang tanahnya labil dan rawan sekali amblas ataupun longsor,” jelasnya.

Hingga kini, kata Suroto, pendataan rumah warga yang rusak dan infrastruktur desa masih dilakukan pendataan.

“Hasil pendataan sementara lebih dari lima rumah warga rusak, satu jembatan putus dan merusak sambungan pipa dan selang air bersih,” kata Suroto.

Advertisement