BOGOR – Berdasarkan pantauan satelit citra cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem yang melanda Bogor akhir-akhir ini akan terjadi hingga awal April 2017. Â
Fenomena ini menunjukan telah masuknya puncak musim hujan akibat aktifnya monsun di Asia. Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Dedi Sucahyono mengatakan, monsun Asia mulai aktif sehingga menyebabkan melemahnya monsun Australia.
“Kondisi ini mengakibatkan curah hujan dengan intensitas sedang hingga deras dengan durasi yang lama mengguyur wilayah Jabodetabek juga merata disejumlah daerah di Jawa Barat,” katanya, Ahad (12/2/2017).
Ditambahkannya, fenomena tersebut mendukung proses pertumbuhan awan hujan akibat suhu muka laut di sekitar Indonesia masih hangat. Suplai air di awan pun menjadi potensial untuk turun sebagai hujan.
“Awan-awan yang terbentuk pada masa transisi adalah awan-awan hujan konvektif yang berpotensi petir, hujan lebat sehingga kondisi cuaca sangat ekstrim seperti yang terjadi saat ini,” kata dia.
Karenanya untuk wilayah Jabodetabek khususnya Bogor masa musim penghujan masih akan terjadi hingga akhir April 2017. Dengan curah hujan yang sangat ekstrim ini, Dedy mengimbau agar masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan untuk mewaspadai bencana tanah longsor.
“Sedangkan guyuran hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama bahkan mencapai 24 jam, menyebabkan meningkatnya debit air sungai yang mengakibatkan bencana banjir sepanjang aliran sungai (DAS),” katanya, demikian disitat dari Tempo.co.





