BANGSA kita selalu bangga dengan made in luar negri. Budaya produk asing ditiru abis! Kalangan ABG misalnya, setiap tanggal 14 Februari seperti hari ini, sibuk ikut-ikutan merayakan Valentine Day, padahal di rumah masih doyan taoge atau thokolan kata orang Yogya. Katanya hari “kasih sayang”, ternyata malah dimanfaatkan untuk kelonan bersama pacar, sehingga banyak yang hilang kegadisannya. Tak mengherankan MUI pun pernah mengeluarkan fatwa, memperingati Valentine Day hukumnya haram!
Setiap menjelang tanggal 14 Februari, hotel-hotel di berbagai kota menawarkan diskon menarik untuk menginap bagi para kawula muda. Di situ para muda-mudi bebas mengungkapkan kasih sayangnya pada sang kekasih. Bukan sekedar kasih kado dan makan-makan, tapi ketika situasi sudah “memanas”, praktek seks bebas pun terjadilah. Ujung-ujungnya, hamil di luar nikah!
Hotel “BW” Malang tahun 2015 pernah dikecam DPRD. Tanpa malu-malu hotel itu pasang iklan baliho yang mengarah ke ajakan mesum. Edan nggak, muda-mudi bersama kekasihnya, jika menginap di hari Valentine Day mendapat diskon 50 %. Promosi itu kan bisa dimaknai: meski belum terdaftar resmi di KUA (menikah), asalkan bersama kekasih, menginap di situ mendapat reduksi harga separo. Untung saja iklan ngaco itu segera diturunkan Satpol PP.
Di Palembang Square Mall menghias ruangan dengan gambar-gambar bermuatan tradisi Valentine Day. Bertajuk “Pink Valentine” tanggal 14 Februari menggelar aneka kegiatan seperti: lomba karaoke, dansah, busana; yang para pesertanya harus berpasangan laki-wanita, persis burung dara dalam pegupon (kandang).
Paling unik di Yogyakarta, kelompok seniman “Manggala Karya Ambuka Jagad” menggelar Valentine Day dengan judul “Festival melupakan mantan” di Pojok Beteng Wetan (Gondomanan). Mudha-mudhi yang pernah patah hati menyerahkan sendal, dompet hingga sprei; pendek kata segala benda kenangan saat pacaran. Untuk sandal dan dompet masih bisa dimaklumi, tapi jika sprei dibawa serta, ini apa-apaan? Apakah seniman “Manggala Karya Ambuka Jagad” ingin tahu pesertanya pernah “ambukak rok”?
Maka paling heibat Walikota Risma di Surabaya. Hotel dan mal sepi dari kegiatan Valentine Day, karena Bu Walikota kirim surat edaran kepada orangtua dan sekolah SMP, SMA dan SMK, yang isinya: larangan memperingati Valentine Day. Cuma celakanya, sementara hotel dan mal sepi, tapi dalam kamar tetap sibuk. Soalnya Satpol PP Surabaya pernah menemukan 120 pasangan mesum di hotel di malam Valentine Day termasuk para ABG. Yok apa rek, sudah dilarang masih juga pada goyang!
Sepertinya tradisi produk negara Barat itu telah menjelma menjadi “agama”-nya kawula muda kota. Tanpa mengerti apa maksudnya, meski di rumah masih doyan taoge, banyak lagak ikut-ikutan merayakan Valentine Day. Pihak MUI pun pernah terbitkan fatwa bahwa memperingati Valentine Day haram hukumnya. Peringatannya sendiri sebetulnya tidak haram, tapi efek atau dampaknya yang berbahaya. Maklumlah, ibarat aliran listrik, kabel negatif ketemu kabel positif, ya korsletlah!
Yang menjadi pertanyaan, kenapa untuk berkasih sayang saja para kawula muda harus tanggal 14 Februari? Berkasih sayang pada sesama umat mestinya tak dibatasi waktu. Agama apapun mengajarkan, berbagi kasih sayang (membantu) bisa dilakukan kapan saja, tanpa memandang jenis kelamin.
Para ABG sebagai generasi muda seharusnya bangga dengan tradisi budaya leluhur, bukan justru berkiblat yang serba luar negri. Pemerintahan Jokowi Jokowi-JK katanya pengamal Trisakti Bung Karno. Tapi hingga sekarang belum pernah baca komentar soal Valentine Day baik dari Mendiknas, bahkan Menko PMK Puan Maharani.
Jika merujuk dengan Trisakti-nya Bung Karno, jelas Valentine Day bertentangan dengan “berkepribadian dalam budaya”. Tapi Puan Maharani tak pernah menyikapi soal ini. Padahal sebagai cucu Bung Karno, mestinya putri Megawati ini sangat sensitif dengan semangat Trisakti. (Cantrik Metaram).





