JAKARTA – Ada yang berbeda di tempat wudhu Masjid Universitas Borobudur, Jakarta. Tempat wudhu yang biasanya sepi pada pukul 08.00, pagi itu terlihat riuh. Di depan pintu masuk berdiri 2 unit mesin cuci bervoltase 370 watt yang bersanding dengan jejeran ember penuh pakaian kotor. Tak jauh dari deretan ember ada Mulyadi (49) salah seorang pengungsi yang sudah mendiami Masjid Universitas Borobudur sejak 2 hari lalu.
Mulyadi terpaksa mengungsi di dalam masjid Universitas Borobudur lantaran rumahnya yang terletak di RT 002/RW 04, Cipinang Melayu, Jakarta Timur terendam air luapan kali sunter setinggi 2 meter. Setelah menunggu selama 30 menit, deru mesin cuci itu berhenti. Dibantu tim rescue, Mulyadi lantas memindahkan pakaiannya ke dalam ember. Dengan langkah gontai bapak satu orang anak itu segera bergegegas menuju pagar besi yang mengelilingi masjid untuk menjemur pakaian
“Alhamdulilah, adanya bantuan cuci baju gratis ini membat kam sangat terbantu. Apalagi baju saya banyak yang kotor nggak sempat diselamatkan,” ucap petugas kebersihan TK AL-Hidayah Cipinang Melayu, Jakarta (22/2).
Usai Mulyadi berkemas, giliran Tri Astuti (37) pengungsi lainnya yang datang untuk sekedar menengok daftar antrian cuci. Warga RT 007/RW 04 Cipinang Melayu itu mengaku, sedari jam 5 subuh dirinya sudah meletakan 2 ember pakaian kotor, namun saat jarum jam menunjukan pukul 08:30 cuciannya belum kunjung dieksekusi.
Kendati demikian Tri memaklumi, ia tak kesal atau pun marah. Mengetahui pakaiannya belum di cuci ibu 5 orang anak itu tetap berucap syukur karena pakaian kotornya yang “segunung” ada yang mencucikan. Tri berujar banjir merupakan tamu rutin warga Cipinang Melayu, setiap tahun kawasan yang ditinggal ribuan jiwa itu selalu terendam air saat puncak musim hujan. Namun untuk bantuan berupa cuci pakaian gratis baru kali ini ia rasakan.
“Hanya satu undakan baju dalam lemari yang berhasil diselamatkan, selebihnya terendam. Belum lagi pakaian yang di gantung. Banyak sekali. Program ini bagus sekali karena meringankan korban yang sudah lelah pikiran dan tenaga. Kalau sampai besok masih ada saya ingin bawa baju rumah kesini,” ujar Tri sambil mengecek pakaiannya.
Itu lah dia salah satu bentuk respon tanggap darurat Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa bagi korban banjir di Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Selain layanan Gerai Cuci, DMC juga turut membantu poses evakuasi korban banjir. Eka Suwandi (32) penanggung jawab aksi respon DMC di Cipinang Melayu mengungkapkan bantuan cuci pakaian gratis rencananya bakal hadir membantu pengungsi sampai 3 hari pasca bencana atau tergantung dengan dinamikabanjir.
“Saya melihat dari relawan lain belum ada yang bermain di aksi gerai cuci. Oleh karena itu DMC hadir untuk mengisi kekosongan yang ada dan alhamdulilah respon warga sangat positif” terang Eka di gerai cuci DMC.
Dengan kekuatan 2 unit mesin cuci modern dalam duahari setidaknya DMC telah berhasil mencuci bersibaju dari 100 KK. Untuk setiap pakain yang masuk setidaknya dibutuhkan waktu cuci hingga 30 menit. Pencucian menggunakan air bersih, sudah termasuk deterjen sampai pengeringan. Setiap mesin cuci mampu membersihkan maksimal hingga 9,5 kilogram pakaian.
“Sebelumnya kami gunakan genset sebagai sumber tenaga. Tetapi semalam list sudah menyala dan untuk air bersih kami sudah berkoordinasi dan mendapatkan izin dari pengurus masjid,” ucap Eka.
Eka memaparkan sejak dibuka pada pukul 9 pagi selasa kemarin, pihaknya mengaku kewalahan memenuhi permintaan warga. Pada hari itu mesin cuci baru bisa istirahat beroperasi pada jm setengah 3 dini hari dan sudah harus kembali operasional pukul 5 subuh.
“Antiannya cukup panjang, in saja ada yang sudah antri dari jam 6 pagi tetapi sekarang belum tertangani,” jelas Eka sambil meihat jam tangannya yang menunjukan pukul 9 pagi.
Eka menambahkan sebagai bentuk respon tanggap bencana DMC juga berencana bakal menggear jasa service motor gratis bagi pengungsi yang motornya teredam air.
“Ini sedang kami petakan, kami lagi cari lokasi. Soanya takut bising dan mengganggu pengungsi yang didalam masjid” tutup Eka.





