Pemerintah Bangladesh Desak Internasional Tekan Myanmar

Ilustrasi patroli Tentara Myanmar di pengungsian Rohingya di Rakhine/ VOA

DHAKA – Sudah ribuan warga etnis Rohingya melarikan diri akibat kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar, dalam beberapa bulan terakhir. Mereka mengungsi ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan selama operasi militer Myanmar.
Atas hal itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Bangladesh A H Mahmood Ali mendesak komunitas internasional mengatasi perlakuan Myanmar terhadap minoritas muslim Rohingya.
Ali menegaskan hal itu bersama Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Hak Asasi Manusia (HAM) di Myanmar Yanghee Lee yang mengunjungi Dhaka selama tiga hari.
Ali menyatakan, resolusi damai harus dibuat. ”Ali menjelaskan berbagai upaya Bangladesh untuk berkomunikasi dengan Myanmar secara bilateral dengan membuat kantor hubungan perbatasan dan membahas kerja sama keamanan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Bangladesh, dikutip kantor berita Reuters, Rabu (22/2)

Ali mengunjung kamp pengungsian di Coxs Bazar yang berbatasan dengan Myanmar. Saat kunjungan itu Ali menjelaskan bahwa pengungsi Rohingya memiliki dampak negatif terhadap warga lokal dan mengganggu keamanan.
Secara terpisahm, Menlu Norwegia Borge Brende di Dhaka juga mendesak komunitas internasional menekan Myanmar agar berhenti memperlakukan Rohingya secara semena-mena.

”Mayoritas warga Buddha di negara itu harus memperlakukan minoritas secara bermartabat dan terbuka,” paparnya. Hampir 70.000 Rohingya melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh setelah operasi militer pasca serangan di pospos perbatasan pada 9 Oktober lalu, yang menewaskan sembilan polisi Myanmar.

Otoritas Myanmar menuding militan Rohingya sebagai pelaku penyerangan tersebut. Para pengungsi itu kemudian bergabung dengan lebih dari 200.000 Rohingya yang telah berada di Bangladesh. Sebagian besar pengungsi tinggal di kamp-kamp resmi dan sementara serta menyedot sumber daya di salah satu negara paling miskin di Asia tersebut.

Myanmar menyangkal hampir semua tuduhan pelanggaran HAM tersebut. Kekejaman terhadap Rohingya itu memicu kemarahan negara-negara tetangga Myanmar. Malaysia pun mengecam keras pemerintah Myanmar. Sekitar 1,1 juta Rohingya saat ini tinggal di Rakhine dalam kondisi yang memprihatinkan.

Advertisement