Kepemimpinan Gaduh Gaya Donald Trump

ULAH dan sepak terjang AS Donald Trump, presiden ke-45 Amerika Serikat yang kontroversial dan kerap tampil beda, disanjung dan dipuja para pendukungnya, namun sekaligus juga dicaci dan dibenci lawan-lawannya, baik di dalam maupun di luar negeri.

Itulah sosok Trump, CEO boss kerajaan bisnis properti AS yang pernyataan dan kebijakannya kerap menjadi santapan media massa di seluruh dunia.
Siapa mengira, polster atau lembaga-lembaga survei pun tertipu, Trump memenangkan pemilu lalu, mengalahkan calon Partai Demokrat, Hillary Clinton yang lebih diunggulkan meraih jabatan orang nomor satu di negeri adidaya itu.

Di luar pakem, atau berlaku “out of the box” kemunculan Trump yang diusung Partai Republik ternyata “mengena” bagi warga negara AS yang mendambakan pemimpin lebih peduli pada nasib mereka.
Penduduk di kota-kota kecil yang secara ekonomi kurang beruntung atau termarjinalisasikan, sudah bosan pada sosok pemimpin yang membuat AS menjadi “Godfather” atau sinterklas bagi negara-negara lain ketimbang memikirkan nasib dan kesejahteraan rakyat AS sendiri.

Mayoritas rakyat AS agaknya tidak menghendaki lagi sosok presiden yang terlalu banyak melibatkan AS dalam berbagai keruwetan persoalan dunia, melainkan yang fokus pada persoalan dalam negeri .

Mereka agaknya trauma mengenang lebih 50.000 anggota tentara AS yang tewas di Perang Vietnam pada era 1960-an, ratusan lagi di Afganistan dan Perang Teluk I dan II saat memerangi Irak, belum lagi jutaan dolar yang digelontorkan untuk mendanai perang di berbagai medan konflik dunia. Munculnya sikap populis seperti itu lah yang memberikan andil untuk mengantarkan Trump melenggang ke Gedung Putih.

Trump sejauh ini agaknya tetap bergeming menghadapi lawan-lawan politiknya. Walau mengundang pro- kontra dan kegaduhan serta mundurnya Jaksa Agung Sally Yatte , kebijakan Trump melarang masuk warga negara berpenduduk mayoritas muslim Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman, akhirnya juga tetap diberlakukan.

Lawan media massa
Selain membuat kebijakan kontroversial sejak ia berada di tampuk kekuasaan di Gedung Putih sejak 20 Januari 2017, Trump menabuh genderang perang pada media massa yang dicapnya sebagai musuh rakyat Amerika.

Tidak tanggung-tanggung, media terkemuka seperti radio dan TV BBC, CNN, koran The New York Times dan The Los Angeles Time dilarang untuk meliput jumpa pers di Gedung Putih. Di negeri dimana pers dinilai sebagai salah satu pilar demokrasi dan dijamin kebebasannya sejak puluhan tahun lalu, peraturan ini sungguh tidak lazim.

Kemarahan Trump ditumpahkan pada media yang dituding membocorkan kontak-kontak yang dilakukan tim suksesnya dengan sejumlah pejabat Rusia di tengah kampanye Pilpres lalu.
Aksi solidaritas ditunjukkan oleh majalah Time dan Kantor Berita Transnasional AP untuk tidak meliput kegiatan Gedung Putih, sebaliknya Trump menyatakan, media bohong yang tidak mengungkap kebenaran merupakan ancaman bagi AS.

Indonesia saja, negara yang proses kehidupan berdemokrasi masih terus berkembang, kebebasan pers sangat terjaga. Kasus-kasus pembredelan pers hanya di era Orde Lama atau pernah terjadi pada era Orde Baru seperti dialami harian Proritas dan majalah Tempo.

Keinginan Trump untuk menjadikan AS negara paling unggul dalam persenjataan nuklir dalam wawancara dengan Reuters (23/2) terkesan kontradiktif, karena pada saat bersamaan ia mencemaskan semakin kerapnya uji-uji rudal yang dilakukan oleh rezim tertutup Korea Utara di bawah Presiden Kim Jong Un.

Korut baru saja berhasil melakukan uji coba rudal balistik Pukguksong (Bintang Utara) berdaya jangkau 2.000 Km dan berkemampuan memuat hulu ledak nuklir. Rudal dilaporkan berhasil melayang pada ketinggian 550 Km di atas ufuk sebelum jatuh di Laut Jepang, 500 km dari lokasi peluncuran.

Berbeda dengan rudal-rudal Scud peninggalan ex-Uni Soviet yang dioperasikan Korut atau rudal Nodong, Rodong, Taepodong 1, Taepodong 2 dan Musudan buatannya yang mengaplikasikan teknologi era dekade “60-an berbahan bakar propelan cair, Pukguksong menggunakan bahan bakar padat.

Ini yang dicemaskan Trump, karena selain proses peluncurannya lebih cepat, jarak jangkau lebih jauh, mobilitas rudal berteknologi sepeti yang digunakan Pukguksong juga lebih tinggi karena juga bisa diluncurkan dari kapal selam.

Trump kembali menuai kecaman, saat bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanjahu di Washington (15/2) secara eksplisit menafikan penyelesaian konflik Israel dan Palestina melalui “solusi dua negara” yang didukung masyarakat internasional termasuk AS oleh sendiri saat dipimpin pendahulunya, Barack Obama.

Trump menyatakan, AS akan bekerja keras mendorong proses perdamaian, namun demikian, perdamaian tidak bisa didiktekan sepihak.
Solusi dua negara, menurut Trump, bukan lah tujuan dan juga terbukti telah gagal mewujudkan perdamaian. Jadi, yang menjadi tujuan adalah perdamaian, baik melalui ‘solusi dua negara’ maupun cara lain yang bisa diterima dan diinginkan semua pihak.

Pernyataan Trump dicemaskan akan membuat proses perdamaian di Timur Tengah tidak menentu lagi dan mendorong Israel terus membangun permukiman di tanah Palestina yang didudukinya di Gaza, Tepi Barat dan Jerusalem Timur sejak Perang Arab – Israel Juni 1967.

Waktu akan membuktikan nanti, apakah sosok pemimpin pembuat gaduh semacam Trump bisa bertahan lama atau bisa saja tiba-tiba kesandung persoalan, di dalam maupun luar negari yang akan memaksanya turun panggung. (AP/AFP/NS)

Bagi UE, khususnya Itali yang menjadi pintu masuk pengungsi dari kawasan Timur Tengah melalui jalur laut terrutama dari Lybia yang jumlahnya sudah mencapai 180.000 orang lebih, kebijakan Trump dikhawatirkan akan menambah beban mereka. Sekitar 4.500 pengungsi menemui ajal di tengah laut sehingga membuat Italia dalam dilema, tidak menolong mereka berarti pelanggaran HAM, sedangkan menolong mereka akan membebani ekonomi dan mendorong mengalirnya pengungsi baru. (AP/AFP/Reuters)

Advertisement