New York- Beberapa hari ini ketegangan di bagian selatan Sahara Barat antara wilayah Marokko dan Mauritania meningkaat.
Melihat hal tersebut, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merasa prihatin.
Guterres menyeru semua pihak terkait agar “melakukan penahanan diri maksimal dan melakukan semua tindakan yang perlu guna menghindari meningkatnya ketegangan”.
“Sekjen sangat prihatin dengan peningkatan ketegangan di sekitar Guerguerat di Jalur Penyangga di bagian selatan Sahara Barat,” demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara Guterres seperti dikutip dari laman Xinhua Minggu (26/2).
Anasir bersenjata dari Marokko dan Frente Polisario masih berada di dekat mereka masing-masing, posisi yang telah mereka pertahankan sejak sejak Agustus 2016. Wilayah tersebut pada siang hari diawasi oleh Misi PBB bagi Referendum di Sahara Barat (MINURSO), kata pernyataan itu.
“Sekretaris Jenderal menyeru kedua pihak agar melakukan penahanan diri maksimal dan melakukan semua tindakan yang perlu guna menghindari peningkataqn ketegangan, baik melalui tindakan militer maupun sipil,” kata pernyataan tersebut.
“Sekretaris Jenderal sangat mendesak semua pihak agar menarik tanpa syarat semua anasir bersenjata dari Jalur Penyangga sesegera mungkin, meniptakan lingkungan yang kondusif bagi dilanjutkannya dialog dalam konteks proses politik yang dipimpin oleh PBB,” kata pernyataan itu.
“Ia juga menyeru semua pihak agar mematuhi kewajiban mereka berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dan menghormati kalimat dan semangatnya,” tambah pernyataan tersebut.
Seperti diketahui, sejak September 2016 situasi di Guerguerat Sahara Barat, di dalam Jalur Penyangga meningkat.
Sahara Barat terletak di pantai barat-laut Afrika dan di perbatasan Marokko, Mauritania dan Aljazair. Pemerintah kolonial Sahara Barat oleh Prancis berakhir pada 1976. Pertempuran belakangan meletus antara Marokko dan Front Polisario. Gencatan senjata ditandatangani pada September 1991.





