Pertempuran tidak hanya di Surabaya. Para pemuda hampir dari seluruh Indonesia bergerak untuk membela Proklamasi. Ini bukti kuat ampuhnya Sumpah Pemuda.
Para pemuda Sulawesi berlayar ke Pulau Jawa secara bergelombang untuk membela Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus, 1945, demikian tulis Brigjen TNI Andi Oddang (alm), mantan Gubernur Sulawesi Selatan dalam memoarnya berjudul “Untuk Merah Putih”, yang terbit tahun 2012.
Kisah dimulai April 1945, saat Bung Karno berkunjung untuk kedua kalinya ke Makassar. Tiga orang utusan Sulawesi dipersiapkan untuk menghadiri sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yakni Dr. Sam Ratulangi, Andi Pangerang Petta Rani dan Andi Sultan Daeng Raja. Mereka berangkat ke Jakarta 10 Agustus 1945.
Sehari setelah Proklamasi RI oleh Bung Karno dan Bung Hatta, disusun pemerintahan, termasuk pemerintah lokal di daerah-daerah. Tanggal 19 Agustus, 1945 Dr. Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubernur Sulawesi. Sejak itu, di Sulawesi Selatan terdengar pekik merdeka, di mana-mana bendera merah putih berkibar, berita radio terus menerus bekumandang menyiarkan berita kemerdekaan, tulis Andi Oddang.
Berkat kunjungan Bung Karno, di Sulawesi dibentuk organisasi yang diberi nama SUDARA (Sumber Darah Rakyat). Semula, ini adalah organisasi pergerakan. Lalu, berubah menjadi organisasi negara. Sekalipun gubernur belum berfungsi semestinya, Dr. Sam Ratulangi menjadi pusat perhatian dan harapan. Rumahnya menjadi salah satu tempat berkumpul para tokoh, termasuk Lanto Daeng Pasewang, Mr. Tadjuddin Noor, Latumahina, Soewarno, Syaranamual dan Manai Sophiaan.
Pada 15 Oktober 1945 di Jongaya, raja-raja Sulawesi menyatakan mendukung pemerintah RI. Pernyataan yang ditujukan kepada PBB itu ditandatangani 391 organisasi. Pada 19 Oktober 1945, pimpinan tentara Sekutu di Makassar, Brigjen Ivan Dougherty diganti oleh Brigjen F.O. Chilton dari Australia, didampingi wakil NICA (Pemerintahan Sipil Belanda), yang ingin kembali menjajah Indonesia. Brigjen Dougherty dikenal pro perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setelah Pertempuran Surabaya 10 November 1945, yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan, NICA memecah belah Dr. Sam Ratulangi dengan tentara Sekutu. Brigjen Chilton pada 1 Desember 1945 mengeluarkan maklumat yang menyatakan NICA adalah bagian tentara Sekutu dan memerintahkan rakyat bekerjasama dengan NICA. Bendera Merah Putih atas perintah NICA harus diturunkan. Di Makassar terdapat konsentrasi pasukan NICA yang besar. Provokasi NICA dijawab rakyat dengan konfrontasi.
Tanpa terpengaruh perundingan oleh Dr. Sam Ratulangi, sejak Januari 1946 di Sulawesi Selatan terjadi berbagi pertempuran. Sebelumnya telah terbentuk beberapa kesatuan laskar pejuang, termasuk LAPTUR (Laskar Pembentuk Turatea), Lipang Bajeng, Harimau Indonesia (HI), BPRI (Barisan Pembentuk Rakyat Indonesia) di Ganggawa dan Pare-pare, Banteng Makassar dan PPNI (Pusat Pemuda Nasional) di Makassar pimpinan Manai Sophiaan.
Manai Sophiaan dan Syaranamual ditugasi Gubernur Sam Ratulangi untuk berlayar ke Pulau Jawa guna bergabung dengan para pejuang RI dan menghindari penangkapan oleh NICA. Kemudian menyusul rombongan Andi Matalatta, Saleh Lahade dkk sebagai utusan para raja untuk melaporkan keberpihakan para raja kepada pemerintah RI dan minta bantuan senjata.
Setelah itu, para pemuda Pare-Pare, kota kelahiran BJ Habibie, secara bergelombang menyusul. Salah satu rombongan dipimpin Andi Oddang berlayar melewati Pulau Masalembo, Kalianget, Madura dan mendarat di Situbondo, Jawa Timur. Mereka mendapat latihan militer. Lalu, ikut bergerilya, termasuk di Gunung Kawi dan menumpas pemberontakan PKI Madiun, 1948.



