Korban Crane Asal Solok Ini Tagih Janji Rp 3,8 M dari Raja Salman

Zulfitri Zaini, 58, warga Jorong Sungai Rotan, Nagari Cupak, Kabupaten Solok yang kaki kanannya diamputasi akibat hancur tertimpa pecahan besi pada peristiwa runtuhnya crane Mekkah 2015/JPNN

Solok-Hampir 1,5 tahun berlalu, janji Raja Arab Saudi untuk menyantuni para korban ambruknya crane di Masjidil Haram pada 11 September 2015 lalu belum terlaksana.
Banyak korban dari jamaah asal Indonesia yang masih belum dapat kopensasi.
Salah satunya dirasakan korban Zulfitri Zaini, 58, warga Jorong Sungai rotan, Nagari Cupak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Kaki kanannya terpaksa diamputasi akibat hancur tertimpa pecahan besi pada peristiwa runtuhnya crine di Makkah.

Kini, untuk beraktifitas sehari-hari di dalam rumah, korban terpaksa menggunakan kursi roda.

“Kalau untuk keluar rumah, saya pakai tongkat,” kata Zulfitri seperti dilaporkan JPNN, Selasa (28/2).
Guru Matematika yang akan pensiun tahun 2018 itu masih merasa sedih, tetapi dirinya masih sabar menanti.

Tapi ketabahannya mengikis semua kesedihan. Dirinya mengaku tidak kekecewaan, kecuali atas janji santunan Pemerintah Arab Saudi yang telah menyebar ke seluruh pelosok negeri, saat itu.

Ibu satu anak itu mengisahkan, tragedi naas yang menimpanya ketika menunaikan ibadah haji dua tahun lalu terjadi di luar dugaan. Bahkan, tak sedikitpun Zulfitri berfirasat akan kehilangan kaki sebelah kanannya untuk seumur hidup. Namun, kini musibah yang menimpanya itu diterimanya dengan ikhlas.
Kala itu, Buk Pit- begitu sapaan akrabnya- tengah berzikir usai menunaikan ibadah shalat ashar di Masjidil Haram.
Namun, sekitar pukul 16.30 (waktu setempat), terdengar bunyi yang cukup keras.
Seketika itu dia terperanjat, namun tidak bisa melarikan diri karena banyaknya jamaah yang masih beribadah di dalam kawasan Masjid.
“Saya shalat di lantai 3. Sedangkan crane yang roboh itu berada di lantai 2,” terangnya.
Namun entah karena tertiup angin, besi-besi crane beterbangan ke mana-mana, termasuk ke lantai 3.
Saat itu, para jamaah langsung berhamburan. Puing-puing besi yang terbang dari seluruh penjuru itu yang akhirnya menimpa para korban dan termasuk dirinya.

Zulfitri sendiri mengalami luka yang cukup banyak. Mulai dari pergelangan tangan sebelah kiri, lengan sebelah kiri yang mengalami luka serius. Paling parah menimpa kaki sebelah kanannya. “Saya tidak tahu persis bagaimana keadaan kaki sebelah kanan saya saat itu.

Yang jelas malam harinya, kaki saya diamputasi,” terang guru yang telah mengabdi 22 tahun di SMPN 1 Gunungtalang itu.
Sesampainya di tanah air, tepatnya tanggal 2 Oktober 2015, Zulfitri lantas mengupayakan pengobatan kakinya yang sampai hari ini masih belum pulih total.

Bahkan, sesekali masih mengeluarkan darah. “Luarnya sudah kering, di dalamnya belum sepenuhnya,” terang perempuan yang suaminya telah meninggal dunia itu.

Awal tahun 2016 lalu, Zulfitri Zaini pun membeli kaki palsu senilai Rp 28,5 juta di Bukittinggi dengan uang pribadi.

Konon, biaya pembelian kaki palsu itu didapatnya dari hasil peminjaman Koperasi senilai Rp 30 juta. Kalaupun dibantu BPJS Kesehatan hanya Rp2,5 juta, itupun diberikan setelah 6 bulan pembelian.
“Selama 30 bulan lamanya saya ngutang Koperasi untuk beli kaki palsu ini dengan angsuran Rp 1,3 juta per bulan. Uang pribadi saya tidak punya,” terang Zulfitri sambil memperlihatkan kaki palsu yang jarang digunakan itu.
Anak ke-4 dari 8 orang bersaudara itu mengatakan, sampai hari ini dia masih menjalani kewajibannya sebagai seorang guru.

“Bosan di rumah terus. Saya pergi dengan tongkat, mengajar 3 kali dalam seminggu,” terangnya.

Zulfitri masih tetap berharap atas janji santunan yang sebesar Rp 3,8 miliar dari Pemerintah Saudi Arabia yang telah diumumkan pada seluruh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia.

Menurut Zulfitri, Raja Arab Saudi itu sendiri hanya mrnyampaikan janji melalui media cetak dan elektronik. Namun, tidak bertatap muka langsung antara korban dengan Raja tersebut.

Dia berharap, Pemerintah Arab Saudi dapat merealisasikan janjinya. Sehingga, dapat meringankan beban biaya pengobatan kaki yang ditanggungnya selama ini.

“Kalau bertemu langsung tidak pernah, saya hanya mendengar janjinya melalui berita,” sebutnya.

Advertisement