Rukunnya Kembali Dua Negara Bertetangga

(crossed Flag Pin)

HUBUNGAN Indonesia dengan tetangga “di halaman belakang” Australia, kembali rukun setelah lawatan kenegaraan Presiden Jokowi ke negara kanguru itu akhir pekan lalu (25 – 26 Februari).

Hubungan RI- Australia kerap mengalami masa-masa surut akibat berbagai persoalan, a.l. kasus terbunuhnya lima wartawan Australia saat meliput konflik Timor Timur pada l975, kelompok separatis Papua yang sering berunjukrasa di negara itu, dan terakhir akibat pengaduan terkait pelecehan terhadap TNI dan simbul-simbul RI oleh oknum-oknum militer Australia.

Ada juga riak-riak kecil lain yang membuat renggang hubungan kedua negara, misalnya pencekalan wartawan Australia David Jenkins di era ’80-an karena memuat tulisan yang tidak menyenangkan terhadap Presiden Suharto.

Di era Presiden SB Yudhoyono, mencuat kasus isu penyadapan oleh aparat intelijen Australia, dan di era Presiden Jokowi pada 2015 pemerintah negara itu sempat protes atas eksekusi kedua warganya (Myuran Sukamaran dan Andew Chan) yang terlibat perkara narkoba.

Tewasnya seorang warga Australia David Blankinsov karena berusaha melawan oknum Polda Papua yang hendak memerasnya saat kapal motor yang dibawanya kehabisan bensin dan terdampar di wilayah itu juga sempat diramaikan media di negeri itu di era ’90-an.

Insiden terakhir itu diadukan oleh seorang perwira TNI yang diperbantukan dalam program kerjasama pelatihan militer antara kedua negara itu baru-baru ini yang kemudian melaporkannya ke pimpinannya di tanah air.

Perwira tersebut menemukan materi ajaran program kerjasama yang dinilai merendahkan TNI, bahkan ia juga membaca berkas dokumen memuat olok-olok terhadap Pancasila. Menerima laporan itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memutuskan penundaan sementara program kerjasama kedua negara.

PM Australia Malcom Turnbull dalam pernyataannya saat kunjungan Presiden Jokowi mengemukakan, kerjasama pertahanan antara kedua negara tetap dilanjutkan mengingat hubungan kedua negara selama ini cukup mendalam dan strategis.

Kerjasama Pertahanan
Dalam pernyataan bersama, disebutkan Jokowi dan Turnbull di bidang pertahanan, sepakat memulihkan kerjasama, tidak terbatas pada pengadaan alutsista untuk perang konvensonal, tetapi juga perang asimetris, seperti perang informasi. Keduanya juga sepakat berkerjasama di bidang maritim.

Di bidang kerjasama pengadaan alutsista, Australia pernah memberikan hibah satu skadron pesawat tempur F-86 Sabre, sejumlah pesawat patroli maritim jenis Nomad dan pesawat angkut C-130 Hercules yang salah satunya mengelami kecelakaan di Wamena, di penghujung 2016.

Kedua negara, ujar Turnbull mengedepankan sikap saling menghormati perbedaan dan sama-sama berkomitmen terhadap demokrasi, kebebasan universal berdasarkan hukum demi terciptanya stabilitas untuk mencapai kemakmuran bersama.

Sebaliknya, Presiden dengan santai mengemukakan, persoalan yang dihadapi dalam relasi antara kedua negara sudah selesai saat ia dan isterinya, Ibu Negara Iriana Joko Widodo saat jamuan malam di kediaman pribadi, PM Turnbull dan isterinya, Lucy dan ketika mereka jalan santai di taman Royal Garden, Sydney.

Jokowi juga menekankan, hubungan kedua negara akan semakin kokoh jika kedua belah pihak saling menghormati wilayah kedaulatan teritorial dan tidak mengintervensi urusan dalam negeri masing-masing.

Dalam upaya kerjasama penanggulangan aksi terorisme dan radikalisme termasuk menghadapi kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), Australia akan melanjutkan komitmennya dengan memberikan bantuan tahap kedua bernilai 40 juta dolar Australia.

Dari sisi geografi dan peta geopolitik, posisi Indonesia sangat strategis untuk menangkal berbagai ancaman yang datang dari Utara termasuk terorisme, lintasan aktivitas perdagangan narkotika atau pengungsi ilegal.

Bagi Indonesia, Australia yang lebih maju teknologi dan perekonomiannya tentu juga menjadi negara mitra penting, sementara di bidang pendidikan, ribuan pelajar dan mahasiswa menuntut ilmu di negara itu.

Hubungan RI – Australia dilandasi semangat untuk membangun kerjasama dan kemitraan telah pulih kembali.
Tinggal diperlukan sikap arif dan legawa, menghadapi krikil-krikil yang sewaktu-waktu bisa menjadi sandungan.

Advertisement