BNP2TKI Yakin TKI Asal Lombok Masih Miliki Ginjal yang Utuh

Sri Rabitah, kehilangan ginjal saat menjadi TKI di Qatar/ merdeka.com

JAKARTA – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga kerja Indonesia (BNP2TKI) hingga kini mengaku belum emnerima laporan adanya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diduga sebagai korban perdagangan organ tubuh.

Diberitakan sebelumnya, seorang TKI bernama Sri Rabitah asal Lombok diduga telah menjadi korban perdagangan organ tubuh, karena satu ginjalnya hilang ketika ia bekerja di Doha, Qatar.

Keluarga Madam Gada, majikan Sir  memaksa Sri ke rumah sakit untuk dibius dan dibawa ke ruang operasi. Ketika sadar, di tubuhnya telah ada bekas jahitan dan ia kencing darah melalui selang. Dari rumah sakit, Sri dibawa ke kantor tenaga kerja Indonesia di Al Jazera dan dipulangkan ke Indonesia.

Sekretaris Utama BNP2TKI, Hermono, mengatakan selama ini lembaganya hanya menerima laporan tentang perdagangan organ tubuh manusia dari keluarga korban yang menerima jenazah buruh migran. Buruh migran Indonesia beberapa kali terlibat kriminal atau terbunuh di negara tempat kerjanya. Lalu petugas keamanan setempat mengotopsi jenazah buruh migran itu.

“Ketika jenazah diterima keluarga, mereka berpikir jahitan di tubuh itu merupakan bukti operasi penjualan organ tubuh.”

Meksi demikian ia mengaku sudah mendapatkan laporan tentang perkembangan Sri Rabitah. Menurut dia, Wakil Rumah Sakit Umum Daerah Mataram menyatakan bahwa organ ginjal Sri masih utuh. Meski dia mengakui ada selang di saluran pembuangan Sri.

“Pada awal Maret akan ada operasi mengangkat selang di tubuh Sri itu.” Karenanya ia berusaha meyakinkan Sri bukan korban perdagangan organ tubuh manusia.

Untuk menyakinkan Sri, ia pun ditawarkan untuk mengecek ulang di Jakarta bila merasa masih ragu dengan pernyataan RSUD Mataram. “BNP2TKI akan membayar tes itu.” ujarnya.

Sementara itu BNP2TKI kini sudah meminta bantuan Kementerian Luar Negeri untuk meminta rekam medis saat mengoperasi Sri di Doha, Qatar untuk mengetahui apa yang menyebabkan Sri dioperasi. “Kami juga akan bandingkan rekam medis Sri di Doha dengan rekam medis Sri sesaat sebelum berangkat.”

Hermono akan mengusut agen penyalur buruh migran yang memberangkatkan Sri ke Timur Tengah. Ia pun akan mencari tahu perusahaan asuransi yang bertanggung jawab atas Sri. “Kami tidak akan tinggal diam.” tegasnya, dikutip dari Tempo, Selasa (28/2/2017).

Advertisement