JAKARTA – Puluhan tahun sudah Yatun dan Tepu hidup dalam jerat kemiskinan.sambil memotong singkong yang baru dipanen tatapan Yatun kosong, raut wajahnya seperti menyiratkan sesuatu. Disebelahnya bersanding persis Tepu yang sibuk membersihkan singkong yang baru dikupas Yatun.
Setelah singkong disiangkan Kedua kakak beradik itu lalu melanjutkannya dengan mengambil kayu yang akan digunakan sebagai bahan bakar. Tak lama kemudian singkong pun dibakar. Dahulu ketika raga masih kuat, Yatun dan Tepu merupakan buruh pemecah batu di Desa Kedak, Semen, Kediri, Jawa Timur.
Namun kini lain cerita, sejak Yatun tidak bisa lagi berjalan kehidupan mereka berdua berubah drastis. Untuk sekedar berpindah tempat saja Yatun harus mengesot. Begitu juga untuk tidur, di usia yang renta keduanya mesti merebahkan tubuh di tanah yang diberi alas tikar tipis dengan bantal yang sudah kumal dan berbau tak sedap.
Seperti diansir dari akun intasgram @cakbudi_ kini hanya Tepu yang mencari nafkah. Guna memenuhi kebutuhan perut Tepu mesti mengumpulkan daun-daunan dan sayuran di kebun orang untuk ditukarkan dengan bumbu dapur.
Yatun tidak mempunyai anak karena tidak pernah menikah. Sedangkan Tepu yang janda memiliki seorang anak tetapi juga hidup menjanda dan pekerjaannya pun hanya buruh dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Sehari-harinya kini Tepu mencari daun singkong atau pepaya untuk kemudian dibawa kewarung untuk kemudian ditukarkan dengan bumbu dapur,” tulis Cakbudi dalam keterangannya.





