LIMAPULUH KOTA – Longsor Jumat (3/3/2017) di Pangkalan, 50 Kota, Sumatera Barat, banyak menyimpan kisah kemanusiaan, mulai dari yang tewas hingga yang selamat dari dahsyatnya bencana yang datang tiba-tiba.
Seorang saksi bencana lewat akun @mon_stg mengisahkan, bagaimana perjuangannya selamat dari ganasnya longsor tersebut. Ia harus berjuang antara hidup dan mati di tengah belantara hutan.
Ia terjebak selama dua hari, Ia sempat minum air mentah dari mata air yang berada di lokasi, dan tidur di salah satu pondok. Berikut kisahnya yang disadur KBK dari Haluan:
“Perjalanan saya dari Bandung ke Medan untuk berbagai urusan dimulai satu minggu yang lalu, selesai urusan di Medan saya bertolak ke daerah Duri Pekanbaru dengan jalur darat. Urusan selesai saya dan rombongan bertolak ke arah Padang untuk menyelesaikan urusan pekerjaan selanjutnya.
Kami berangkat malam, singkat cerita semua berjalan baik seperti biasa.
Sampai pada keesokan harinya di hari jumat pagi kira-kira jam 02.00 WIB dini hari, di sekitar daerah #pangkalan Kabupaten Limahpuluh Kota sumbar, mobil kami tiba-tiba dihentikan oleh bongkahan tanah dari arah tebing yang tinggi. Diselingi hujan lebat dan gelapnya malam di hutan kami mendengar suara bongkahan tanah yang perlahan-lahan mulai jatuh ke bawah.
Tak lama setelah itu di arah depan kami persis, 1 mobil tertimbun bongkahan tanah, berselang beberapa detik mobil berikutnya dihantam bongkahan tanah longsor sampai ada sekitar 6-7 mobil lagi di arah depan kami yang ikut terbawa tanah
Dengan panik kami berusaha memutar balik mobil ke arah bawah dan menghindari longsoran tanah panik, cemas, takut, gelisah entah masih hidup atau mati sudah tak bisa kami rasakan lagi.
Kami mencari posisi aman yang jauh dari tebing curam, selama 2 hari 2 malam kami berjuang diantara ratusan korban lainnya utk bertahan hidup mengandalkan sisa perbekalan yang dibawa, hutan belantara disekeliling sudah tidak mengizinkan adanya makanan yang layak.
Kami bertahan dengan air mentah dari mata air yang kami cari di ujung bukit. Pagi sekitar jam 3 dini hari kami keluar dari mobil dan tidur di luar pondok kecil yang ada disekitar sana karana takut kalau bertahan di mobil akan ada longsor lagi. Benar-benar pengalaman yang takkan pernah terlupakan buat saya dengan semua target kerja yang harus saya penuhi tuhan melukis cerita indah dulu di hidup saya.
Saat itu benar-benar kuasa tuhan bekerja di hidup saya, entah sudah bagimana saya dan rombongan saat ini kalau tanpa kuasa Tuhan melindungi kami. Hari ini saya merasakan apa yang dirasakan para korban pengungsi perang dan bencana alam.
Beberapa korban jiwa sudah ditemukan namun masih banyak yang tertimbun longsor. Serta ratusan mobil yang masih terjebak di tengah #longsor. Semoga pemerintah, tim sar, dan semua yang berkepentingan bisa cepat menolong para korban di sana”





