Mencari Manusia-Manusia Hatta

Makam Bung Hatta di Tanah Kusir. Kita jangan hanya mengenang, tapi butuh manusia-manusia berjiwa Hatta.

SETIAP tanggal 14 Maret kita mengenang jejak-jejak kejuangan Bung Hatta, proklamator RI bersama Bung Karno. Segala perilakunya dari masa muda, dewasa, dan lanjut usia selalu menjadi suri tauladan bangsa. Bung Hatta adalah sosok yang jujur, berintegritas, cinta negara. Bangsa Indonesia terus mencari manusia-manusia bermental Hatta, bukan sekedar nama Hatta. Kalau yang bernama Hatta sih ombyokan, tapi mentalnya hata…….

Bung Hatta wafat tanggal 14 Maret 1980, dalam usia 78 tahun. Bagi orang Indonesia, itu sudah termasuk panjang usia. Jika ditarik dari usia Nabi Muhammad SAW, Bung Hatta sudah mendapat “bonus” Sang Khalik sebanyak 15 tahun. Sosok seperti Bung Hatta ini memang perlu dipanjangkan umurnya, karena meski sudah udzur pun masih bisa memberi sembur (nasihat) untuk kebaikan perjalanan bangsa.

Setiap bicara Bung Hatta, orang akan selalu mengenang kejujurannya, kedisiplinannya, kecintaan pada bangsa dan tanah airnya. Manusia angkatan modern seperti sekarang ini, yang hidup di era gombalisasi, tidak mudah untuk bisa mengikuti jejak-jejak Bung Hatta. Diajak hidup disiplin susahnya minta ampun, maunya diselipin melulu. Integritas kalah dengan segepok uang kertas.

Inilah pangkal kemiskinan para anak-anak bangsa. Bung Hatta sudah bercita-cita sejak jadi mahasiswa di Belanda, kemiskinan harus enyah dari Indonesia. Caranya, harus menjadi bangsa merdeka, yang bisa menentukan nasibnya sendiri. Tapi cita-cita Bung Hatta itu susah untuk diwujudkan. Sudah merdeka sejak tahun 1945 tapi kemiskinan tetap merata di seluruh bumi tanah air. Kita jadi bangsa yang menggik menthol, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Bahkan tidak sedikit, dari lahir hingga mati masih dibelit kemiskinan.

Gara-gara ini rupanya, Bung Hatta gagal memilik sepatu Bally yang terkenal itu. Di awal-awal kemerdekaan, beliau telah melingkari sebuah iklan yang muat tentang penjualan sepatu bikinan Swiss itu. Sebetulnya untuk membeli saat itu tentunya juga bisa, wong Wapres. Tapi ketika ingat rakyat Indonesia masih miskin, tidak tega membelinya. Ternyata, sampai Bung Hatta sudah udzur, rakyat Indonesia masih miskin juga. Walhasil, iklan sepatu itu hanya didokumentasi tanpa sempat dieksekusi.

Kejujuran bagi Bung Hatta, ukurannya bukan hanya sekedar tidak mengambil barang yang bukan haknya. Jika barang itu merupakan aset negara, meski hanya selembar dua lembar kertas, almarhum pantang melakukannya. Sektretaris pribadinya, Iding Wangsa Widjaja, pernah ditegur Bung Hatta karena menggunakan 3 lembar kertas Kantor Sekretaris Wapres untuk berkirim surat pribadi. Jika orang lain paling-paling hanya menegur, tapi Bung Hatta segera mengganti 3 lembar kertas milik negara tersebut.

Putrinya yang bernama Gemala Hatta, tahun 1975 pernah bekerja di Konsulat RI di Sydney Australia. Dia sekali waktu berkirim surat kepada ayahnya di Jakarta. Meski hanya surat pribadi, Gemala memakai amplop berkop Konsulat RI. Ini langsung diurus oleh Bung Hatta. Lewat surat balasannya, beliau menegur, “Surat-surat Gemala kan surat privat, bukan surat dinas. Jadinya tidak baik dipakai kertas Konsulat.”

Bung Hatta juga terkenal akan kedisiplinan, termasuk dalam waktu. Jangan coba-coba janjian dengan Bung Hatta. Jika tepat pada waktu yang disepakati tidak nongol, almarhum pasti menolaknya bertemu,  tak peduli apapun alasan kelambatan itu. Ini jeweran buat para wakil rakyat di Senayan. Mereka sudah terbiasa menghadiri sidang terlambat, bahkan termasuk mbolosnya juga.

Bagi Indonesia, sosok Bung Hatta memang termasuk langka. Celakanya sekarang ini, manusia yang bersikap jujur dimusuhi dan diemohi, gara-gara beda agama. Tapi jika bangsa Indonesia ingin maju dan tak miskin melulu, manusia-manusia berjiwa Bung Hatta harus selalu dicari tanpa mengenal lelah. Kita membutuhkan manusia berjiwa Bung Hatta, bukan sekedar bernama Hatta, yang kerjanya sekedar memburu harta. (Cantrik Metaram)

Advertisement