KISAH nenek Amih (85) dari Garut sungguh mengharukan. Dia sampai digugat di Pengadilan oleh anak kandung dan menantunya, gara-gara utang Rp 20 juta yang beranak pinak menjadi Rp 1,8 miliar. Ini anak kandung dan menantu cap apa, pada orangtua sendiri terlalu berhitung. Padahal jasa orangtua pada anak-anaknya tak terbayarkan dengan uang berapapun. Pepatah telah mengatakan: kasih ibu sepanjang jalan dan kasih anak sepanjang galah. Yang terjadi di Garut ini, rupanya kasih anak hanya sepanjang utang-piutang……
Ketika duduk di TK maupun SD kelas I-II, setiap anak pasti akrab akan lagu “Kasih Ibu” karya SM Muchtar. Liriknya pendek saja, tapi sangat mengena bagi pendidikan karakter. “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…… Setiap orang yang pernah jadi anak-anak dan masih punya orangtua atau tidak, setiap mendengar lagu itu pasti akan tersentuh hatinya, teringat ibu-ibu kita yang telah melahirkan dan mendidik kita sedari kecil hingga dewasa.
Masih banyak lagu lain yang mengenang kasih sayang ibu. Misalnya Retno (Ibunda Sayang), Titik Puspa (Doa Ibu), Lilis Suryani (Ditinggal mama), S. Warno (Kasih Ibu), Alfian (Surat dari ibu), Tuty Subardjo (Pesan Ibu), Ernie Djohan (Mencari ibu), Tety Kadi (Kasih Ibu), dan Titik Sandhora (Oh ibuku). Nah, agaknya Ny. Yani Suryani dan suaminya, Handoyo, di waktu kecil tak pernah mendengar lagu-lagu semacam itu. Atau pas Bu Guru mengajarkan lagu-lagu tentang kasih sayang ibu, Yani Suryani dan Handoyo ……tidak masuk?
Jika pinjam istilah orang sekarang, suami istri Yani Suryani – Handoyo ini kurang piknik, kurang menimba ilmu kehidupan. Semuanya hanya diukur dengan uang. Sebagai pemuja kebendaan, agaknya mereka punya prinsip: famili sih famili, tapi uang itu tak kenal saudara. Sebagai orang Sunda, anak dan menantu ini rupanya lupa akan pepatah: Banda sasampiran nyawa gagaduhan (nyawa, harta dan benda hanyalah titipan).
Tahun 2001anak ke-11 Bu Amih atau Siti Rokayah yang bernama Asep Ruhiat pinjam uang kepada kakaknya, Yani Suryani (anak ke-9) sebanyak Rp 40 juta. Dari jumlah itu baru dikembalikan Rp 20 juta. Karena Asep tak juga mampu bayar, nenek Amih selaku orangtua menjaminkan sertifikat rumahnya. Ternyata Asep tetap tak mampu bayar, sehingga tahun 2016 digugat secara perdata. Utang yang hanya Rp 20 juta itu ditambah bunga dan kerugian immaterial, membengkak jadi Rp 1,8 miliar. Paling tragis, jika nenek Amih tak bisa membayar, Handoyo akan menceraikan istrinya.
Lagi lagi, ini mantu cap apa? Sebegitu tega mengorbankan anak istri hanya bela-belain “piutang” Rp 1,8 miliar. Kelakuan menantu seperti ini mengingatkan pada kisah perwayangan, Raden Narasoma. Dia tega membunuh mertua sendiri, Begawan Bagaspati, hanya karena bertampang raksasa. Padahal kata kidalang Anom Suroto, kita tak hanya wajib berbakti pada Allah, orangtua, guru, tapi juga mertua. Sebab karena jasa mertua, seorang lelaki tak perlu “kedinginan” setiap malam.
Mantu yang bener, mestinya takkan setega itu. Jika istri berotak rentenir, mestinya dia yang mengingatkan. Jangan terlaku berhitung pada orangtua sendiri. Mereka yang menyebabkan kita ada di dunia; dilahirkan, dibesarkan, dididik hingga dewasa. Berapa nilai jasa orangtua pada anak, tak bisa dihitung dengan uang. Kita harus bersyukur karena masih ada orangtua, sehingga masih ada kesempatan berbakti. Banyak anak yang menyesal, ingin berbakti pada orangtua, tapi keduanya telah tiada.
Hadist Nabi mengatakan, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah, kepada siapa kita harus berbakti, maka Nabi menjawab: ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu. (HR: Bukhori-Muslim No.5971 dan 2548). Mengapa diprioritaskan pada ibu, karena seorang ibu itu yang lebih banyak berjuang demi anak, sedang ayah sih hanya bagian “nyetrom” doang! (Cantrik Metaram)





